Showing posts with label Sosiologi. Show all posts
Showing posts with label Sosiologi. Show all posts

Profil Dr Arief Munandar - Bang Arief FNN Wafat

Biografi Profil Biodata Dr Arief Munandar - wikipedia meninggal dunia - Forum News NetworkArief Munandar yang biasa disapa Bang Arief adalah seorang sosiolog dan YouTuber FNN yang dikabarkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan akibar covid-19. Ucapan duka cita juga mengalir dari ekonom senior Rizal Ramli dalam unggahannya di Twitter yang menampilkan foto Arief Munandar. Sebelumnya, dalam unggahan terakhir di kanal YouTube miliknya, Arief Munandar menyempatkan untuk menyapa pengikutnya. 

Arief Munandar yang tengah berbaring lemas dengan dipasang alat bantu pernapasan atau ventilator tetap menyempatkan untuk memberikan kabar terkait kondisi kesehatannya. Kabarnya, Airef Munandar sempat menjalani perawatan intensif di ruang rawat pasien covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 

Bang Arief, sapaannya di YouTube, membagikan kondisi kesehatannya di hari keempat menjalani perawatan intensif setelah terpapar covid-19. Hingga hari keempat perawatan atau tepatnya pada 7 Juli 2021, kondisinya belum membaik. Mengenai kabar wafatnya Arief Munandar, Rizal Ramli pun memohon doa dan maaf serta mendoakan sang istri dan anak-anak.

Dr Arief Munandar menamatkan S1 dan S2 dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, dengan konsentrasi Manajemen Keuangan. Arief Munandar meraih gelar Doktor Sosiologi, dengan spesialisasi sosiologi politik dan sosiologi organisasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Arief memiliki passion di bidang pengembangan SDM, sehingga selama beberapa tahun berkarir sebagai Staf Pengajar di almamaternya, dan beberapa Perguruan Tinggi lain. Di samping itu, Arief bergabung dengan sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan SDM, sebagai trainer dan konsultan. Arief juga sempat menjadi Direktur di beberapa perusahaan konsultan SDM, sebelum mendirikan peopleshift. 

Di luar dunia profesional, Arief menyalurkan passion-nya dengan membangun Shafa Community, komunitas sosial-keagamaan yang fokus mengembangkan SDM pemuda yang tangguh, cerdas dan profesional melalui berbagai aktivitas pemberdayaan. Salah satunya, Program Beasiswa Rumah Peradaban, beasiswa kepemimpinan yang didedikasikan untuk melejitkan potensi mahasiswa-mahasiswa terbaik dari Universitas Indonesia.

Imam Prasodjo - Tokoh Sosiolog Indonesia

Biografi Profil Biodata Imam Prasodjo - Tokoh Sosiolog IndonesiaDr. Imam B. Prasodjo yang lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 15 Februari 1960; umur 56 tahun adalah seorang sosiolog dan tokoh masyarakat dari Indonesia. Saat ini ia menjadi dosen tetap fakultas ilmu sosial dan politik (FISIP) Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Prasodjo juga merupakan ketua dari Yayasan Nurani Dunia, yaitu sebuah yayasan yang berkecimpung dalam bidang sosial dan pendidikan bagi kalangan yang kurang mampu dari segi ekonomi.

Prasodjo memperoleh gelar Ph.D dari Brown University, Rhode Island, Amerika Serikat. Ia kerap kali muncul sebagai narasumber di berbagai acara TV, maupun seminar yang diselenggarakan oleh universitas. Ia juga pernah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum pusat masa bakti 1999 - 2004. Prasodjo saat ini telah menikah dengan seorang wanita bernama Gitayana Budiardjo, anak dari pakar politik Miriam Budiardjo. Mereka punya dua anak Rauf Prasodjo dan Adila Prasodjo.

Prof Miriam Budiardjo yang lahir di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah, 20 November 1923 – meninggal di Jakarta, 8 Januari 2007 pada umur 83 tahun adalah pakar ilmu politik Indonesia dan mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Istri Ali Budiardjo, seorang tokoh perjuangan Indonesia, ini pernah menjabat sebagaiDekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) periode 1974–1979. Ia masih bersaudara dengan Soedjatmoko.

Biografi Benedict Anderson - Pengamat Politik

Biografi Profil Biodata Benedict Anderson Wikipedia Meninggal Dunia di Batu MalangBenedict Richard O'Gorman Anderson atau Benedict Anderson lahir di Kunming, 26 Agustus 1936 adalah Pemikir dan peneliti Indonesia, Pria kelahiran Kunming, China itu pernah dicekal pada masa Orde Baru, dan dia baru boleh kembali ke mengunjungi Indonesia pada 1999. Semasa hidupnya, Anderson adalah pengkaji Asia Tenggara paling terkemuka di dunia. Bukunya, "Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism" dianggap sebuah karya klasik dalam ilmu sosial dan ilmu politik. Karya-karya Anderson lainnya termasuk Java in a Time of Revolution, Debating World Literature, dan Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia.

Ben Anderson adalah ilmuwan terkemuka dalam studi tentang Indonesia. Karya-karyanya banyak yang menjadi karya klasik wajib dibaca oleh kaum akademisi Indonesia. Ia berkarya dan mulai menulis penelitian-penelitian tentang Indonesia sejak awal 1960. Benedict R. O’Gorman Anderson lahir di Provinsi Yunnan, Cina. Ia menjabat sebagai Profesor Aaron L. Binenkorb pada studi internasional, profesor pada bidang pemerintahan dan studi Asia serta masih menjabat sebagai direktur di Cornell Modern Indonesia Project. Ia sempat dilarang masuk ke Indonesia oleh Soeharto karena tulisanya yang disebut "Cornell Paper" soal Gerakan Partai Komunis Indonesia pada 1965. Dia baru berkunjung lagi ke Indonesia pada 1999 saat pemerintahan Soeharto jatuh.

Biografi Profil Biodata Benedict Anderson Wikipedia Meninggal Dunia di Batu MalangBen Anderson meninggal dunia dalam usia 79 tahun di Batu, Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/12. 2015) pukul 11.30 WIB. Kabar meninggalnya Anderson diperoleh dari akun Twitter dan Facebook resmi penerbit Marjin Kiri yang akan meluncurkan buku Anderson di Indonesia berjudul "Di Bawah Tiga Bendera". Kedatangan Benedict Anderson ke Indonesia dalam rangka menghadiri peluncuran buku tersebut. Pada Kamis (10/12/2015) lalu, Anderson juga baru memberi kuliah umum di Universitas Indonesia tentang "Anarkisme dan Sosialisme". Dalam akun Facebooknya, penerbit Marjin Kiri, mengatakan bahwa Anderson meninggal dunia (Sabtu) dini hari tadi di sebuah hotel di daerah Batu, Malang, saat beristirahat sehabis berjalan-jalan.

Ben Anderson menginap di kamar 143 Hotel Royal Orchid, Kota Batu. Setelah peluncuran buku Nasionalisme dan Anarkisme di Universitas Indonesia, Ben menyempatkan diri liburan ke Jawa Timur. Sempat berkunjung ke Surabaya, Ben kemudian beristirahat di Kota Batu. Humas Polres Batu menceritakan kegiatan Ben sebelum meninggal dunia. Pada pukul 19.00 WIB, Sabtu kemarin, Ben bersama asistennya Edward dan supirnya Sugito masuk Hotel Royal Orchid. Pada pukul 20.00 WIB, Ben makan malam, lalu naik ke kamarnya untuk tidur. Setelah beberapa kali dibangunkan, Ben tidak kunjung bangun. Edward memutuskan untuk menunggu selama 10 menit. Lalu dengkuran Ben sempat berhenti dan nafasnya terputus-putus, tidak lama kemudian nafasnya berhenti.

Ben kemudian dibawa ke rumah sakit dengan ambulan. Setelah diperiksa organ vitalnya, Ben dinyatakan meninggal dunia. Anak angkat Ben Anderson, Wahyu Yudistira mengatakan, Anderson tak memiliki penyakit khusus saat meninggal. Menurut Wahyu, Anderson berada di Jawa Timur untuk berjalan-jalan, bernostalgia di tempat-tempat yang pernah dia kunjungi sebelumnya, seperti Museum Mpu Tantular di Sidoarjo atau Candi Belahan di Mojokerto. Minggu (13/12/2015) pagi, jenazah Anderson dibawa ke Surabaya dari Malang untuk disemayamkan. Dan, sesuai permintaannya, Anderson ingin jasadnya dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Jawa.

Donald Carl Johanson - Lucy Australopithecus

Biografi Profil Biodata Biografi Donald Carl Johanson Biography - who is Lucy the AustralopithecusDonald Johanson Carl (lahir 28 Juni 1943) adalah seorang Amerika ahli paleoantropologi. Dia dikenal karena menemukan fosil dari perempuan hominin Australopithecus yang dikenal sebagai "Lucy" di Segitiga Afar wilayah Hadar, Ethiopia. Johanson lahir di Chicago, Illinois dengan orang tua Swedia, dia keponakan untuk Ivar Johansson. Dia meraih gelar sarjana dari University of Illinois di Urbana-Champaign pada tahun 1966, dan nya gelar master (1970) dan PhD (1974) dari Universitas Chicago. Pada saat penemuan Lucy, dia adalah seorang profesor antropologi di Case Western Reserve University. Pada tahun 1981, ia mendirikan Institute of Human Origins di Berkeley, California yang kemudian ia pindah ke Arizona State University pada tahun 1997. Johanson memegang gelar doktor kehormatan dari Case Western Reserve University, dan dianugerahi Doktor Kehormatan oleh Westfield State College di 2008. - Siapakah Lucy si Australopithecus

Biografi Profil Biodata Biografi Donald Carl Johanson Biography - who is Lucy the AustralopithecusJohanson menerima "Kaisar Apakah Tidak Pakaian" penghargaan di Freedom From Religion Foundation 37 konvensi tahunan pada 24 Oktober 2014. Lucy ditemukan di Hadar, Ethiopia pada 24 November 1974, ketika Johanson, dibujuk dari dokumen-nya oleh mahasiswa pascasarjana Tom Gray untuk memacu-of-the-saat survei, menangkap kilatan tulang fosil putih dari sudut matanya, dan diakui sebagai hominin. Empat puluh persen dari kerangka itu akhirnya sembuh, dan kemudian digambarkan sebagai anggota pertama yang diketahui dari Australopithecus afarensis. Johanson terkejut menemukan begitu banyak kerangka nya sekaligus. Pamela Alderman, anggota ekspedisi, menyarankan agar ia diberi nama "Lucy" setelah lagu The Beatles '"Lucy in the Sky dengan Diamonds" yang dimainkan berulang kali selama malam penemuan. - Siapakah Lucy si Australopithecus

Biografi Profil Biodata Biografi Donald Carl Johanson Biography - who is Lucy the AustralopithecusSebuah hominin bipedal, Lucy berdiri sekitar tiga setengah kaki; bipedalisme dia mendukung teori Raymond Dart bahwa Australopithecus berjalan tegak. Johanson dan timnya menyimpulkan dari Lucy tulang rusuk yang ia makan diet nabati, dan dari tulang jari melengkung bahwa dia mungkin masih di rumah di pohon. Mereka tidak langsung melihat Lucy sebagai spesies terpisah, tetapi menganggapnya sebagai anggota yang lebih tua dari Australopithecus africanus. Penemuan ini, bagaimanapun, beberapa tengkorak lebih dari morfologi mirip membujuk paling palaeontolog untuk mengklasifikasikan sebagai spesies yang disebut afarensis. Johanson dan Maitland A. Edey memenangkan 1982 US National Book Award in Science [a] untuk buku populer pertama tentang pekerjaan ini, Lucy:. Awal of Humankind. - Siapakah Lucy si Australopithecus

Biografi Sajogyo - Bapak Ekonomi Sosiologi Pedesaan

Profil Biografi Sajogyo - Bapak Ekonomi Sosiologi Pedesaan IndonesiaProf Dr Ir Sajogyo (lahir di Karanganyar, 21 Mei 1926 – meninggal di Bogor, 17 Maret 2012 pada umur 85 tahun) adalah seorang pakar ilmu sosiologi dan ekonomi yang juga sering dikenal sebagai "Bapak Sosiologi Pedesaan" di Indonesia. Prof. Dr. Ir, Sajogyo terlahir dengan nama Sri Kusumo Kampto Utomo, Karanganyar, Kebumen, 21 Mei 1926. Ia dikenal sebagai “Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia” atau “Bapak Ekonomi-Sosiologi Indonesia”, demikian menurut Prof. Dr. Mubyarto. Dia turut meletakkan dasar-dasar studi sosial-ekonomi pedesaan di Indonesia. Prof. Dr. Ir. Sajogyo tumbuh, meniti dan menjadi pemimpin studi agraria Indonesia, dimulai dari kampus IPB, hingga menjadi Rektor IPB pada tahun 1964. Dibesarkan dalam tradisi ilmu sosial yang dikembangkan dari pertanian, Prof. Dr. Ir. Sajogyo menyoal ekologi, pangan, gizi, tanah, agraria, yang kesemuanya berada dalam konteks agri-culture (pembudidayaan), serta relasi antara natura dan humana. Ia menghabiskan masa kanak-kanak hingga remajanya di beberapa kota: Karanganyar, Bandung, Cepu, Barabai, Kediri, Banjarnegara, Purwakarta, Solo, dan Yogyakarta, mengikuti ayahnya bertugas sebagai seorang guru. Ia mulai mengenal dan bekerja untuk pedesaan sejak tahun 1949 ketika belajar di Fakultas Pertanian UI di Bogor, atau kini dikenal dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selepas kuliah, ia memulai kariernya dengan menjadi Asisten Dosen Sosial Ekonomi Pertanian di IPB, membantu penelitian Ir. Ten Dam dari Belanda, di sebuah desa teruka di Cibodas (Jawa Barat) pada tahun 1953-1955. Di desa inilah, ia mengenali struktur sosial pedesaan, antara mereka kelompok “yang memerintah” dengan “yang diperintah”. Kedua kelompok ini ditandai dengan penguasaannya atas tanah. Di tahun-tahun itu, Cibodas menjadi situs pengetahuan dalam kajian ilmu sosial yang baru saja dirintis. Desa ini kalah populer dengan Mojokuto-Kediri, tatkala bandul kajian ilmu sosial berayun dan menapak ke arah yang lain.

Dari desa Cibodas penelitiannya berkembang ke desa-desa lain, tatkala mendampingi Guru Besar Prof. W.F. Wertheim dari Belanda, melakukan penelitian pada tahun 1955-1957. Kenang Wertheim, “Di mana-mana bersama mahasiswa dan asisten saya, Kampto Utomo, kami melakukan penyelidikan di daerah-daerah pedesaan. Hasil penelitian itu memberi pemahaman bahwa Indonesia mempunyai situasi yang sangat banyak perbedaannya antara Jawa dan pulau-pulau luar Jawa, maka menurut saya inisiatif harus ditumbuhkan dari bawah”. Kampto Utomo berkesempatan pula mendampingi penelitian ahli geografi-sejarah Prof. K. J. Pelzer di Sumatera Utara, tahun 1955. Akhir tahun 1950-an, ia aktif berkontribusi dalam pertemuan ilmiah membahas rancangan Undang-Undang Pokok Agraria yang kemudian diluncurkan pada tahun 1960.

Perhatiannya pada masalah pangan, dicurahkannya dengan turut mengajar di Akademi Gizi, Bogor tahun 1959-1961. Ia kemudian diangkat menjadi Guru Besar Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia di Bogor (IPB), pada tahun 1963. Ia memimpin IPB hingga tahun 1965, tahun tatkala huru-hara politik sangat mempengaruhi dunia kampus. Pada masa kepemimpinannya inilah, selain merapikan manajemen keuangan kampus, ia memimpin program BIMAS SSBM (Bimbingan Massal Swa-Sembada Bahan Makanan) IPB pada tahun 1963-1965. Pendekatan yang dilakukannya adalah “Pendidikan Orang Dewasa”, mendekatkan antara mahasiswa IPB dengan pribadi-pribadi tani di desa.

Bersamaan tatkala menjadi rektor, sejak tahun 1964 ia diberi amanat oleh pemerintah untuk menjadi Ketua Badan Kerja Survey Agro Ekonomi (SAE) hingga tahun 1972. Lembaga ini bertugas “mengkaji sumber-sumber pertanian dan keadaan masyarakat tani di Indonesia serta mengenai organisasi, jasa-jasa dan program pemerintah di bidang pertanian dan agraria yang ada (dulu) sampai sekarang, baik dari pusat maupun dari daerah”. SAE lahir atas ide Menteri Agraria Mr. Sadjarwo, dilatarbelakangi ketidakpuasannya atas hasil sensus pertanian 1963 yang tidak menggolongkan mereka yang memiliki kurang dari 1000m2 sebagai petani. Realitas gurem tidak ditangkap dalam sensus.

Terdapat penilaian bahwa amat sedikit dari ahli-ahli sosial dan ekonomi yang tidak diperkenalkan oleh training workshop atau konferensi yang diorganisasikan oleh lembaga SAE yang ia pimpin. Dan hampir tidak ada penulis dalam bidang sosial ekonomi pertanian di dalam dan luar negeri yang tidak menggunakan data, penemuan, dan kesimpulan dari SAE.

Prof. Sajogyo turut menjadi penanggung jawab riset “Intensifikasi Padi Sawah”, satu evaluasi atas Revolusi Hijau. Riset ini merupakan kerjasama antara SAE, Ford Foundation dan Agriculture Development Council/ADC pada tahun 1968. Setahun kemudian, ia turut membidani lahirnya Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) dan menjadi penasehat di organisasi tersebut. Organisasi profesi inilah yang kemudian melahirkan Yayasan Agro Ekonomika (YAE).

Pada tahun 1972, Departemen Kesehatan memintanya memimpin Survey Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Berjalan selama dua tahun, survey ini melibatkan peneliti-peneliti berbagai perguruan tinggi, bekerjasama dengan Bappenas, dan UNICEF. Hasil kajiannya selain dalam bentuk laporan ilmiah, disajikan menjadi panduan para kader program “Taman Gizi”, yakni kumpulan orang-orang yang berorganisasi meningkatkan gizi balita dan keluarga. Perhatiannya ini mengantarkannya menjadi Ketua Pergizi Pangan Indonesia pada tahun 1978, yang berafiliasi dengan Internasional Union of Nutrition Science.

Dari riset UPGK ini pulalah, pada tahun 1977 ia merumuskan pengukuran garis kemiskinan, apa yang kemudian dikenal dengan “Garis Kemiskinan Sajogyo”. Sumbangsih ini mengatasi kemacetan metodologis dalam menilai dan mengukur kemiskinan, satu konsep penting dalam kajian ekonomi dan sosial. Melalui tulisannya berjudul “Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan”. Pengukurannya didasarkan pada konsumsi pangan dalam nilai tukar setara beras (desa-kota). Menurutnya, kelompok miskin adalah mereka rumah tangga yang mengonsumsi pangan “kurang dari nilai tukar 240 kg beras setahun perkepala di pedesaan” atau “369 kg di perkotaan”. Dari penghitungan ini diperoleh angka kecukupan pangan 2.172 kalori orang/hari. Di bawah angka ini dinyatakan miskin. Mengukur kemiskinan dari konsumsi pangan kaum papa adalah sangat logis, sebab panganlah kebutuhan paling mendasar. Ukuran garis kemiskinan sangatlah penting, sebab salah satu indikator penting pemerataan kesejahteraan rakyat dilihat dari jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Pengukuran berdasar kecukupan pangan ini kemudian berkembang dan diadopsi sebagai kebijakan pemerintah dalam rumusan lain sebagai “food basket”. Lebih dari itu, jikapun beras digunakan ukuran kesetaraannya (idealnya bukan beras itu sendiri), ia menyadarkan pentingnya aneka ragam pangan yang demikian kaya dimiliki Indonesia, ditanam di atas jenis tanah yang berbeda-beda dengan budaya tanam masyarakatnya masing-masing. Karya klasiknya pada tahun 1973 berjudul “Modernization without Development in Rural Java” melakukan evaluasi-kritik terhadap Revolusi Hijau. Telaahnya ini yang semula merupakan paper untuk lokakarya FAO di Bangkok, menunjukkan bahwa Revolusi Hijau hanya menguntungkan petani golongan atas dan mempercepat proses proletarisasi petani gurem. Karya ini menjadi rujukan utama dalam kajian Green Revolution yang terjadi di berbagai benua, yang dikaitkan dengan gejala diferensiasi sosial pedesaan. . Prof. Sajogyo sangat dekat dengan dunia LSM. Pada tahun 1973, ia turut menjadi pendiri LSM Bina Desa yang eksis hingga kini. Keterlibatannya mendalam serta gagasan-gagasannya tentang pemberdayaan masyarakat di kemudian hari memengaruhi kebijakan Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan apa yang dari sisi metodologi, kelak disebut sebagai Kaji Tindak Partisipatoris (KTP). Pada tahun ini pula ia berkesempatan menjadi fellow melakukan studi sabatikal di East-West Center, Food Institute, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Tatkala isu Reforma Agraria atau landreform masih dianggap tabu, alih-alih menjadi perhatian ilmu sosial Indonesia, pada tahun 1976 Prof. Sajogyo secara halus menyinggungnya kembali lewat gagasannya tentang Badan Usaha Buruh Tani (BUBT). Idenya adalah, agar efektif pengelolaan dan produksinya, dilakukan “kolektifisasi” penguasaan tanah oleh petani gurem, dengan cara mereka yang memiliki kurang dari 0,2 hektare dibeli tanahnya oleh pemerintah. Tanah ini dititipkan oleh negara dan diserahkan pengelolaannya kepada Badan Usaha Buruh Tani (BUBT) yang ada di tangan petani gurem tersebut.

Gayung bersambut. Pada tahun 1979, ia turut serta dalam delegasi World Conference on Agrarian Reform and Rural Develop¬ment (WCARRD) yang diselenggarakan oleh FAO di Roma, Italia. Indonesia mengirim sekitar 40 orang. Sepulang dari Roma, Prof. Sajogyo menggagas riset komparatif para peneliti agraria internasional tentang masalah agraria di Indonesia, India, Filipina, dan beberapa negara lain. Sempat setahun menjadi visiting fellow di Center for Southeast-Asian Studies, Universitas Kyoto, Jepang, ia kembali menindaklanjuti hasil riset komparatif tersebut. Kajian dari berbagai negara itu kemudian dipresentasikan dalam International Policy Workshop on Agrarian Reform in Comparative Perspectives, Selabintana-Sukabumi, 1981.

Di kampus IPB, ia juga dipercaya menjadi pendiri dan direktur Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan IPB (1972-1982) atau yang kemudian dikenal dengan Pusat Studi Pembangunan-IPB. Dalam lembaga inilah, berawal dari kerjasama dengan Pemerintah Daerah Sukabumi, dirintis lembaga riset perencana tingkat kabupaten terintegrasi (BAPEMKA, 1974-1978) yang kemudian direplikasi menjadi BAPPEDA di semua kabupaten di Indonesia.

Untuk mengukuhkan fokus kajiannya, ia kemudian mendirikan dan mengetuai Program Pascasarjana Sosiologi Pedesaan di IPB (197-1991). Di sinilah ia mengembangkan apa yang disebut sebagai Sosiologi Terapan, satu mazhab sosiologi yang bervisi emansipatoris, memiliki daya pengubah terutama bagi cita-cita sosial petani dan masyarakatnya. Di dalam Sosiologi terapan, ilmuwan sosial selain berbekal teori dan perbendaharaan ilmiah, ia akan berinteraksi dengan kalangan praktisi baik di pemerintahan ataupun swasta, LSM, dan masyarakat itu sendiri. Pelibatan bersama-sama dan interaksi berbagai aktor, yang pastinya mensyaratkan saling percaya dan komitmen itu, menjadi ciri dari orientasi Sosiologi Terapan ala Prof. Sajogyo.

Kepakarannya dalam menggeluti hak-hak sosial ekonomi masyarakat, membawanya pada posisi Ketua Kelompok Kebutuhan Dasar Manusia (1980-1983), salah satu bidang dalam Panitia Nasional IpTek di bawah Menteri Ristek, yang saat itu dijabat Prof. Dr. B.J. Habibie. Kiprahnya berlanjut dengan menjadi Anggota Dewan Riset Nasional (DRN), Ketua Kelompok Kebutuhan Dasar Manusia, di bawah Menteri Ristek, pada tahun 1983 hingga 1994.

Pria yang sempat identik dengan jenggot putih ini melahirkan 'garis kemiskinan Sajogyo'. Menurutnya, kelompok miskin adalah rumah tangga yang mengkonsumsi pangan kurang dari nilai tukar 240 kg beras setahun per kepala di pedesaan atau 369 kg di perkotaan. Dari sini diperoleh angka kecukupan pangan 2.172 kg orang per hari. Sehingga untuk angka di bawah itu termasuk kategori miskin.

Pada 2011 Sajogyo meraih Habibie Award 2011 untuk kategori ilmu sosial. Sajogyo mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan. Hal itu tercermin saat dirinya mendirikan Sajogyo Institute yang merupakan badan pelaksana Yayasan Sajogyo Inti Utama yang didirikan pada tahun 2005 lalu. Sajogyo membangun institut ini bersama para kolega, sahabat, murid dan anak-anak muda yang terinspirasi oleh kepedulian, pemikiran dan konsistensi perjuangan yang panjang dalam memahami dinamika masyarakat petani dan penghidupan di pedesaan.

Pengembangan masyarakat menjadi perhatiannya. Prof. Sajogyo diundang menjadi fellow selama musim panas di UN Research Institute of Social Development, Geneva, Swis (1985), dengan pendanaan dari Ford Foundation. Sebagai peneliti, ia terus menerus mengembangkan penelitian kerjasama lintas lembaga. Ia juga ditugasi sebagai Penanggung Jawab Proyek Penelitian Peluang Usaha/Kerja di Luar Pertanian (PukLuTan), kerjasama PSP-IPB, PLH-ITB, dan ISS Belanda (1986-1991), yang dari sini diembriokan gagasan “industrialisasi desa” mengatasi kemacetan pembangunan pedesaan dan gejala migrasi besar-besaran atas “surplus of rural population”. Berbagai aset yang terhimpun dalam proyek ini, terwariskan menjadi lembaga riset bernama Pusat Penelitian dan Analisa Sosial, AKATIGA yang berdiri tahun 1991. Prof. Sajogyo menjadi pendiri sekaligus penasehatnya.

Berbagai pertemuan, baik di aras desa, nasional, hingga internasional mengenai masalah pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, gizi-pangan, kemiskinan, tanah dan agraria, serta melalui berbagai kelembagaan internasional seperti ILO, WHO, dan UNDP, telah dihadirinya. Ijtihadnya mendorong terciptanya masyarakat yang cerdas dan merdeka terus menerus dilakukannya tanpa henti, bahkan hingga kini meski ia tergolek lemah di atas pembaringan. Usahanya secara sungguh-sungguh itu terus menerus dilakukannya, baik di aras akademik, kebijakan (pemerintah), dan gerakan sosial kemasyarakatan.

Cita-cita menuju masyarakat yang cerdas dan merdeka terlalu sempit diwadahi dalam satu kelembagaan, diterobos dari satu sisi, dan dilakukan oleh aktor-aktor yang terpisah. Cita-cita itu adalah cita-cita besar kita semua, membangun Keindonesiaan yang cerdas dan merdeka: “...Slamatkan tanahnya, slamatkan puteranya, pulaunya, lautnya semuanya. Indonesia Raya, merdeka merdeka, hiduplah Indonesia Raya..!”