Showing posts with label Komunisme. Show all posts
Showing posts with label Komunisme. Show all posts

Kassim Ahmad - Pelopor Anti Sunnah Malaysia

Biografi Profil Biodata Kassim Ahmad - Pelopor Anti Sunnah MalaysiaKassim Ahmad, adalah pelopor lahirnya kelompok anti sunnah dan yang paling tenar di Malaysia. Dia menyeru umat Islam agar meninggalkan hadits, karena menurutnya, ia merupakan ajaran palsu yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. dan penyebab pertama perpecahan dan kemunduran umat Islam. Beberapa pemikiran kontroversialnya mengenai hadits, dia ungkapkan dalam salah satu bukunya, Hadits- Suatu Penilaian Semula, yang diterbitkan pada tahun 1984, sebelum kemudian, tepatnya pada 8 Juli, 1986 buku tersebut dilarang peredarannya oleh Kementerian Dalam Negeri Malaysia, yang dilanjutkan kemudian pada tahun 1993 Pemerintah Malaysia mengeluarkan fatwa pelarangan masyarakat mengikuti gerakan yang dinilai sesat ini.

Nama lengkap Kassim Ahmad adalah Kassim bin Ahmad, lahir pada tanggal 9 September 1933 di Bukit Pinang, daerah Kota Setar, Propinsi Kedah, Malaysia, dari seorang ayah yang bernama Ahmad bin Ishaq dan seorang ibu bernama Ummi Kalthom binti Haji Ahmad. Kedua orang tuanya berasal dari wilayah Melayu Pattani, Thailand. Kakeknya, Lebai Ishaq Lebai The, adalah seorang petani sekaligus guru agama yang tinggal di Seberang Perai, Pulau Pinang. Pada tahun 1960, Kassim Ahmad menikah dengan seorang perempuan bernama Sharifah Fauziah binti Yussof Alsaggof. Selain dikenal sebagai pelopor gerakan anti hadits, dia juga dikenal sebagai seorang penyair dan penulis terkenal. Beberapa prestasi yang telah diraihnya, antara lain, pada tahun 1985, dia mendapat ijazah kehormatan Dokter Persuratan dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Pada tahun 1987, juga mendapat anugerah sebagai penyair Gabungan Penulis-penulis Nasional (GAPENA).

Sejak sekolah tingkat dasar hingga tingkat menengah, Kassim Ahmad dikenal sebagai seorang pelajar yang gigih, rajin, pintar, dan akktif di dunia organisasi. Pada tahun 1952, dia tertarik untuk memperlajari filsafat Islam. Pada tahun 1954/1955, dia masuk Universitas Singapura dan banyak bergaul dengan para pemikir liberal, juga para sosialis Marxis dan mulai tertarik dengan teori-teori Marxisme dalam rangka membebaskan rakyat dari penjajahan dan kemiskinan. Setelah meninggalkan universitasnya, dia bekerja sebagai peneliti di Dewan Bahasa dan Pustaka di Kuala Lumpur, kemudian menjadi dosen di Pusat Pengajian Timur dan Afrika (London School of Oriental and African Studies) selama empat tahun. Kemudian sempat juga di angkat sebagai ketua Partai Sosialis Rakyat Malaysia (PSRM) selama lima tahun, sebelum akhirnya ditangkap dan dipenjara oleh Kementerian Dalam Negeri pada tahun 1981. Tahun 1984, dia berhenti dari jabatan sebagai ketua partai, dan menfokuskan diri dalam dunia tulis-menulis, dan tahun 1985 ia tertarik untuk mengkaji hadits. Namun meski demikian, dia baru benar-benar meninggalkan dunia politik sejak tahun 1992. Selian itu, karier lain yang pernah digelutinya adalah menjadi presiden Jama’ah Al-Qur’an tahun 1985.

Biografi D.N. Aidit - Profil Dipa Nusantara Aidit

Biografi Profil Biodata Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit PKIDipa Nusantara Aidit yang lebih dikenal dengan D.N. Aidit (lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923 – meninggal di Boyolali, Jawa Tengah, 22 November 1965 pada umur 42 tahun) adalah seorang pemimpin senior Partai Komunis Indonesia (PKI). Lahir dengan nama Ahmad Aidit di Pulau Belitung, ia akrab dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Aidit mendapat pendidikan dalam sistem kolonial Belanda.

Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Belitung, dan dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Pada masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda. Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, "Nurul Islam", yang berorientasi kepada Muhammadiyah. Keluarga Aidit berasal-usul dari Maninjau, Agam, Sumatera Barat.

Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja. Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool"). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia).

Biografi Profil Biodata Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit PKIDalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin. Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit menunjukkan dukungan terhadap paham Marhaenisme Sukarno dan membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan. Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer. Berakhirnya sistem parlementer pada tahun 1957 semakin meningkatkan peranan PKI, karena kekuatan ekstra-parlementer mereka. Ditambah lagi karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia. - Cerita Korban G30S PKI 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya