William Wirjaatmadja Wongso yang lahir di Malang, Indonesia, 12 April 1947; umur 73 tahun adalah seorang pakar kuliner terkenal Indonesia. Ia dikenal luas sebagai ahli kuliner yang menguasai seni masakan Eropa dan Asia. William pada awalnya bercita-cita menapaki karier di bidang film dan fotografi seperti ayahnya, Soewadi Wongso (Wong See Hwa), namun keahlian sang ayah dalam memasak menumbuhkan minatnya untuk mencintai dunia kuliner.
Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts
William Wongso - Pakar Kuliner Indonesia
William Wirjaatmadja Wongso yang lahir di Malang, Indonesia, 12 April 1947; umur 73 tahun adalah seorang pakar kuliner terkenal Indonesia. Ia dikenal luas sebagai ahli kuliner yang menguasai seni masakan Eropa dan Asia. William pada awalnya bercita-cita menapaki karier di bidang film dan fotografi seperti ayahnya, Soewadi Wongso (Wong See Hwa), namun keahlian sang ayah dalam memasak menumbuhkan minatnya untuk mencintai dunia kuliner. - Pemilik "Vineth Bakery"
- Pemilik "William Kafe Artistik"
- Pemilik "William Gourmet Catering"
- Presiden Chaine des Rotisseurs Indonesia Chapter (1986-1993)
- Presiden International Wine & Food Society Cabang Jakarta (1991-1994)
- Penasihat kuliner maskapai Garuda Indonesia
- Tergabung dalam Industry Advisory Council di Universitas Bina Nusantara, jurusan Manajemen Perhotelan, sebagai penasihat kuliner
- Pemandu acara “Cooking Adventure with William Wongso” di Metro TV
Keahliannya dalam memasak tidak diperoleh melalui pendidikan formal melainkan dari berguru langsung dengan pemilik warung di pinggir jalan hingga penyaji makanan berkelas di restoran atau hotel berbintang. Ia sering melakukan kunjungan ke tempat asal masakan dan langsung berinteraksi dengan ahlinya.
Sisca Soewitomo - Pakar Kuliner Nusantara
Sisca Soewitomo (lahir di Surabaya, 8 April 1949; umur 69 tahun) merupakan seorang pakar kuliner asal Indonesia. Ia terkenal karena kerap kali muncul sebagai presenter acara memasak di beberapa stasiun televisi Indonesia. Sisca merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya Rp. Tjipto Soemirat, asli Madura, merupakan seorang pegawai di kantor Bea dan Cukai di Surabaya sementara ibunya Rr. Chrysantini Slamet merupakan seorang ibu rumah tangga yang kerap memasak. Dari hobi memasak ibunyalah Sisca kemudian mengenal dunia kuliner. Sejak masih kecil ia kerap membantu ibunya dalam menyiapkan beragam penganan, terutama menjelang Idul Fitri.
Sisca merupakan alumnus dari Akademi Trisakti jurusan perhotelan. Ia lantas mendapatkan beasiswa dari American Institute of Baking di Manhattan, Kansas, Amerika. Sepulang dari AS-lah nama Sisca mulai terkenal, baik sebagai dosen perhotelan maupun sebagai pakar tataboga. Beberapa nama yang sempat menjadi murid Sisca antara lain Tatang, Rudy Choiruddin, Deddy Rustandi, dan Haryanto Makmoer.
Profil Bondan Winarno Tokoh Kuliner Indonesia
Bondan Winarno (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 29 April 1950 – meninggal di Jakarta, 29 November 2017 pada umur 67 tahun) adalah seorang penulis dan wartawan Indonesia dengan berbagai kebisaan. Dia memelopori dan menjadi ketua Jalansutra, suatu komunitas wisata boga yang sangat terkenal di Indonesia. Dia juga menjadi presenter dalam acara kuliner di Trans TV, yaitu Wisata Kuliner. Ia terkenal dengan ungkapannya yaitu "Pokoe maknyus!", ungkapan ini sering diparodikan dalam suatu kondisi yang nyaman, enak dan lainnya. - Yvonne Winarno istri Bondan WinarnoKetika Bondan masih anggota Pramuka dulu, lelaki berkulit cokelat ini aktif dalam aeromodelling. Ketika sudah berkeluarga, ia ikut terjun payung dan menjadi anggota Jakarta Flying Club. Sebenarnya, Bondan juga bercita-cita menjadi penerbang, selain guru dan wartawan. Ibunya ingin Bondan menjadi dokter, atau insinyur. Di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas Diponegoro, Semarang, namun belum sempat selesai, Bondan sudah menjadi fotografer Puspen Hankam di Jakarta hingga tahun 1970. Setelah itu, ia berpindah-pindah kerja, tetapi tetap tidak lepas dari lingkup komunikasi massa.
Sempat bertugas sebagai wartawan ke berbagai negeri, antara lain ke Kenya, Afrika. Sebagian pengalamannya dari negeri itu ia tuangkan menjadi cerpen berjudul Gazelle, yang kemudian memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada tahun 1984. Menulis sudah hampir merupakan kebiasaan bagi Bondan. Ia pun bisa menulis di mana saja, di pesawat udara, di mobil, atau bahkan di toilet. Hasil tulisannya dimuat berbagai penerbitan, misalnya Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo. Pada majalah terakhir ini ia secara tetap Bondan mengisi Rubrik Kiat, yaitu kolom pendek soal-soal manajemen, dunia yang juga ia tekuni selama ini. - Anak: Gwendolin Amalia Winarno, Marisol Winarno, Eliseo WinarnoSejak 1960 (umur 9–10 tahun), Bondan menjadi penulis lepas. Ia menulis di berbagai penerbitan seperti Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Tempo, Mutiara, Asian Wall Street Journal, dan lain-lain. Pada 1984-1987 ia menjadi redaktur kepala majalah SWA. Pada 1987-1994 ia beralih menjadi pengusaha dan menjabat sebagai Presiden Ocean Beauty International, sebuah perusahaan makanan laut yang berbasis di Seattle Washington, Amerika Serikat. Antara 1998-1999 ia menjadi konsultan untuk Bank Dunia di Jakarta, dan setelah itu, hingga 2000 ia menjadi direktur eksekutif dari sebuah organisasi pelestarian lingkungan. Pada 2001-2003 ia menjadi pemimpin redaksi harian Suara Pembaruan.
Subscribe to:
Posts (Atom)