
Babe Haikal mengaku bahwa sewaktu masih kecil, dirinya kerap mendengarkan ceramah agama melalui kaset pita. Kaset-kaset ceramah tersebut sengaja ia koleksi dan disimpan hingga kini. Selain itu, dirinya juga mengaji Alquran dengan guru ngajinya, yakni Ustadz Muchtar. Saat mengaji dengan gurunya itu, ada sebuah pelajaran yang membuatnya bercita-cita untuk menjadi pendakwah saat besar kelak. Babe Haikal kemudian memutuskan untuk menggali ilmu agama Islam lebih dalam di sebuah perguruan tinggi di Jedah, Arab Saudi. Namun karena merasa tidak betah, ia memutuskan untuk kembali ke tanah air dan melanjutkan pendidikan di dalam negeri, yakni di Universitas Budiluhur.
Lulus dengan gelar S1 bidang Teknik Informatika di Universitas Budiluhur, Haikal muda kembali melancong ke luar negeri untuk mengejar gelar S2 di WA University, Perth, Australia. Di sana, ia kembali menggali ilmu di Fakultas Teknik Informatika. Lagi-lagi kehidupan di luar negeri membuat Haikal muda tidak nyaman. Setelah sempat menjalani kehidupan selama 2 tahun di Australia, dia pun memutuskan untuk kembali pulang dan melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan mendapat gelar S2 di bidang Teknik Perindustrian. Haikal Hassan sempat berprofesi sebagai salesman sambil mengajar di sebuah perguruan tinggi. Setelah itu, dia memutuskan untuk kembali mengejar pendidikan, yakni di Fakultas Filsafat Matematika Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan bekerja sebagai konsultan Sumber Daya Manusia, di sebuah perusahaan pertambangan.
Karier dakwah Haikal Hassan sudah dimulai sejak tahun 80an, yakni sebagai guru ngaji kampung di daerah tempat tinggalnya. Dirinya aktif memberikan ceramah-ceramah agama dengan gaya yang khas, yakni dialek Betawi yang kental dengan kejenakaan. Nama Haikal Hassan Baras mencuat paska aksi massa 212, pada 2 Desember 2016 silam. Dirinya bersama ratusan ulama pemimpin organisasi massa Islam, membentuk sebuah koalisi nasional untuk mengawal fatwa MUI tentang kasus penistaan agama oleh mantan Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Haikal juga kerap tampil sangar dalam mengkritik pemerintahan lewat berbagai mimbar dakwah. Tidak hanya itu, dirinya juga kerap mencuitkan pemiiran kritisnya lewat media sosial Twitter. Dalam kancah politik, Haikal juga tercatat sebagai salah satu juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dalam posisinya tersebut, dirinya kerap memberikan ceramah-ceramah dalam agenda safari politik capres Prabowo di berbagai daerah.