Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Biodata Nani Widjaja dan Sartrawan Ajip Rosidi

Biografi Profil Biodata Nani Widjaja Menikah jadi istri dari Sartrawan Ajip RosidiNani Widjaja (EYD: Nani Wijaya, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 10 November 1944; umur 72 tahun) adalah salah satu pemeran Indonesia. Nani Widjaja adalah istri dari almarhum Misbach Yusa Biran, sutradara Indonesia, menikah pada 10 Januari 1969, dan ibunda dari Cahya Kamila dan almarhumah Sukma Ayu, yang juga pemeran Indonesia. Setelah lulus SMA, Nani Widjaja melanjutkan pendidikan formalnya di Universitas Indonesia, mengambil jurusan Kriminologi di Fakultas Ilmu Sosial. Awalnya, Nani diterima pula di Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra jurusan Antropologi, tapi Nani memutuskan untuk kuliah di jurusan Kriminologi. Ia adalah satu dari empat bersama personel golden girls bersama Ida Kusumah, Connie Sutedja dan Rina Hasyim. Nani Widjaja adalah salah satu aktris watak terbaik Indonesia spesialis film drama.

Biografi Profil Biodata Nani Widjaja Menikah jadi istri dari Sartrawan Ajip RosidiAjip Rosidi (ejaan baru: Ayip Rosidi, Sunda: ᮃᮚᮤᮕ᮪ ᮛᮧᮞᮤᮓᮤ; lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938; umur 79 tahun) adalah sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage. Ajib Rosidi mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi (1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953) dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956). Meski tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di Jepang. Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Biografi Profil Biodata Nani Widjaja Menikah jadi istri dari Sartrawan Ajip RosidiSejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancagé setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya. Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.

Profil Farid Wajdi Ibrahim Ketua Majelis Adat Aceh

Biografi Profil Biodata Farid Wajdi Ibrahim meninggal dunia instagram ig Ketua Majelis Adat Aceh wafat Wikipedia IndonesiaProf Farid Wajdi Ibrahim adalah Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) yang dilantik pada 1 Mei 2021. Di kampus UIN Ar-raniry Prof Farid dikenal sebagai guru besar mata kuliah Pemikiran Islam pada Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. 

Farid Wajdi memang belakangan ini disibukkan dengan menghadiri beberapa pertemuan dan acara terkait dengan Majelis Adat Aceh. Dalam beberapa hari terakhir sang intelektual kampus UIN Ar Raniry yang juga pendakwah bersuara lantang itu masih menjalani akitivitasnya sebagai Ketua Majelis Adat Aceh. 

Selain sebagai tokoh adat, Prof Farid juga akrab dengan berbagai kalangan hingga dia banyak mendapat undangan dari berbagai pihak maupun pengurus masjid untuk menjadi khatib jumat, atau ceramah pada peringatan hari-hari besar Islam. 

Beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Meuraxa, Banda Aceh yang diketahui positif Corona. Mantan Rektor UIN Ar-raniry Banda Aceh itu mengeluh sesak dan dibawa ke rumah sakit pagi tadi sekitar pukul 04.29 WIB. Setelah tiba di rumah sakit, tim medis melakukan swab antigen dengan hasil reaktif. Pihak rumah sakit lalu melakukan tes PCR dan hasilnya dinyatakan positif.

Profil Jaya Suprana Pendiri MURI Museum Rekor

Biografi Profil Biodata Jaya Suprana meninggal dunia salah instagram ig mualaf masuk islam Wikipedia IndonesiaJaya Suprana (Phoa Kok Tjiang) lahir di kota Denpasar, Bali pada 27 Januari 1949. Pada usia 10 bulan pindah ke Semarang dan dibesarkan dalam kultur kebudayaan Jawa. Dikenal sebagai seorang berkepribadian unik, jenius, kreatif dan memiliki berbagai bakat. 

Mempunyai hubungan harmonis dengan berbagai tokoh politik, kesenian dan agama. Dikenal sebagai pianis, komponis, penulis, public speaker, tv presenter, kartunis, kelirumolog, humorolog, filantropis, pemerhati masalah sosial, budayawan dan pengusaha. 

Presiden Komisaris Jamu Jago Grup yang didirikan tahun 1918 dan bergerak dibidang jamu dan obat-obatan farmasi. Pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebuah lembaga pencatat prestasi superlatif bangsa Indonesia (1990). 

Kumpulan rekor telah dibukukan dalam buku Rekor-Rekor MURI, yang disunting oleh Aylawati Sarwono dan diberi kata sambutan oleh Presiden RI. Jaya Suprana mengabdikan sisa hidupnya untuk membina anak anak Indonesia berbakat seni luar biasa agar dapat berkiprah di panggung dunia mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di samping menulis artikel dan buku. 

Karya kartun telah dimuat di berbagai media cetak dalam dan luar negeri dan dibukukan dengan judul "Koleksi Kartun Jaya Suprana". Karya tulis telah dibukukan dalam: Ensiklopedi Kelirumologi, Naskah-Naskah Kompas, Pedoman Menuju Tidak Bahagia, Kelirumologi Reformasi, Kelirumologi Genderisme. Menulis naskah untuk Kompas, Suara Pembaruan ( Rubrik Kelirumologi) dan Sinar Harapan ( Rubrik Harapan Jaya Suprana ).
Lulus dengan predikat terbaik dibidang pianoforte dari musik Hochschule, Muenster, Jerman pada tahun 1970 dan menjadi orang Asia pertama di Jerman yang diangkat menjadi Kepala Sekolah Musik. Karya musik telah dipergelar di Jerman, Belanda, Polandia, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hongkong, Jepang, Srilangka, Bangladesh, Kenya, Aljazair, Spanyol, Hungaria, Austria dan berbagai siaran radio dan televisi. Kompilasi karya-karya musik Jaya Suprana diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Musik, Jakarta dalam bentuk album "The Complete Works of Jaya Suprana". 

Bersama Aylawati Sarwono, pada tahun 2009 Jaya mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan Seni Pertunjukan "Jaya Suprana School of Performing Arts", yang banyak memberikan kontribusi dan beasiswa untuk mengembangakan seni musik, seni tari, seni teater dan kesenian tradisional dan mendirikan Paguyuban Wayang Orang Indonesia Pusaka yang telah mempergelar lelakon "Banjaran Gatotkaca" di Sydney Opera House (18 Desember 2010) dan di Istana Negara (29 Juli 2011). 

Pada 2011 menyelenggarakan Indonesia Pusaka International Piano Competition. 2014 mempergelar resital piano tunggal di Carnegie Hall, NY, USA. 2014 bersama Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menyelenggarakan Simposium Internasional Filsafat Indonesia

Biografi Ki Manteb Sudarsono Dalang Wayang Kulit

Biografi Profil Biodata Ki Manteb Sudarsono Dalang Wayang KulitKi Manteb Soedharsono yang lahir di Palur, Mojolaban, Sukoharjo, 31 Agustus 1948 – meninggal di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, 2 Juli 2021 pada umur 72 tahun adalah seorang dalang wayang kulit ternama yang dari Jawa Tengah. Karena keterampilannya dalam memainkan wayang, ia pun dijuluki para penggemarnya sebagai Dalang Setan. Ia juga dianggap sebagai pelopor perpaduan seni pedalangan dengan peralatan musik modern. Saat ini Ki Manteb berdomisili di Dusun Sekiteran, Kelurahan Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. 

Ki Manteb mulai mendalang sejak kecil. Namun, popularitasnya sebagai seniman tingkat nasional mulai diperhitungkan publik sejak ia menggelar pertunjukan Banjaran Bima sebulan sekali selama setahun penuh di Jakarta pada tahun 1987. Ketika Ki Narto Sabdo meninggal dunia tahun 1985, seorang penggemar beratnya bernama Soedharko Prawiroyudo merasa sangat kehilangan. Soedharko kemudian bertemu murid Ki Narto, yaitu Ki Manteb yang dianggap memiliki beberapa kemiripan dengan gurunya itu. Ki Manteb pun diundang untuk mendalang dalam acara khitanan putra Soedharko. 

Sejak itu, hubungan Sudarko dengan Ki Manteb semakin akrab. Sudarko pun bertindak sebagai promotor pergelaran rutin Banjaran Bima di Jakarta yang dipentaskan oleh Ki Manteb. Pergelaran tersebut diselenggarakan setiap bulan sebanyak 12 episode sejak kelahiran sampai kematian Bima, tokoh Pandawa. Ki Manteb mengaku, Banjaran Bima merupakan tonggak bersejarah dalam hidupnya. Sejak itu namanya semakin terkenal. Bahkan, pada tahun '90-an, tingkat popularitasnya telah melebihi Ki Anom Suroto, yang juga menjadi kakak angkatnya.
Pada tanggal 4–5 September 2004, Ki Manteb membuat rekor dengan mendalang 24 jam tanpa henti dengan lakon Baratayudha. Pertunjukannya ini bertempat di RRI Semarang, Jalan A. Yani 144–146 Semarang. Berkat pementasannya ini, ia mendapatkan rekor MURI pentas wayang kulit terlama. Dan hebatnya, meskipun telah mendalang selama 24 jam itu, dokter yang memeriksa kesehatan Ki Manteb setelah pentas menyatakan bahwa kondisi Ki Manteb sangat prima. 

Dalang kondang Ki Manteb Soedarsono (72) meninggal pada Jumat (2/7/2021) sekitar Pukul 09.45 WIB. Ki Manteb meninggal di kediaman pribadinya di Dukuh Suwono, Desa Ndomplang Kecamatan Karangpandan, Karanganyar. Keponakan Ki Manteb Sudarsono, Ade Irawan (28) saat dikonfirmasi, Jumat (2/7/2021) mengatakan, jika Ki Manteb Soedarsono meninggal karena sakit dan dirawat di rumah. Saat dirawat di rumah sempat diinfus dan diberi oksigen dan beliau punya riwayat sakit paru-paru. 

Sebelum sakit dan meninggal, Ki Manteb Soedarsono sempat ke Jakarta. Beliau ke Jakarta minggu kemarin bersama istri, anak, dan sopir. Usai pulang ke Karangpandan, Ki Manteb istirahat sebentar kemudian pentas wayang di rumah live streaming. Pentas live streaming di rumah itu, Minggu (27/6/2021) kemarin.

Biografi K.R.T. Hardjonagoro - Budayawan & Sastrawan

Biografi Profil Biodata K.R.T. Hardjonagoro - Budayawan dan SastrawanGo Tik Swan, umumnya dikenal dengan nama K.R.T. Hardjonagoro (lahir pada 11 Mei 1931—5 November 2006) adalah seorang budayawan dan sastrawan Indonesia yang menetap di Surakarta. Ia dilahirkan sebagai putra sulung keluarga Tionghoa yang termasuk golongan Cabang Atas atau priyayi Tionghoa di kota Solo (Surakarta). Karena kedua orangtuanya sibuk dengan pekerjaan mereka, Tik Swan diasuh oleh kakeknya dari pihak ibu, Tjan Khay Sing, seorang pengusaha batik di Solo. Ia mempunyai empat tempat pembatikan: dua di Kratonan, satu di Ngapenan, dan satu lagi di Kestalan, dengan karyawan sekitar 1.000 orang.

Sejak kecil Tik Swan biasa bermain di antara para tukang cap, dengan anak-anak yang membersihkan malam dari kain, dan mencucinya, mereka yang membubuhkan warna coklat dari kulit pohon soga, dan orang-orang yang menulisi kain dengan canting. Ia juga senang mendengarkan mereka menembang dan mendongeng tentang Dewi Sri dan berbagai cerita tradisional Jawa. Dari mereka ia belajar mengenal mocopat, pedalangan, gending, Hanacaraka, dan tarian Jawa. Tik Swan dikirim bersekolah di Neutrale Europesche Lagere School bersama warga kraton, anak-anak ningrat, anak-anak pemuka masyarakat, dan anak-anak pembesar Belanda. Ini disebabkan karena kedua orangtuanya adalah keturunan pemuka masyarakat Tionghoa pada saat itu. Ayahnya adalah cucu dari Luitenant der Chinezen di Boyolali sedangkan ibunya cucu Luitenant der Chinezen dari Surakarta.

Tidak jauh dari rumah kakeknya, tinggallah Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X, seorang indolog lulusan Universitas Leiden dan juga penari Jawa klasik. Di rumah sang pangeran selalu diadakan latihan tari yang sejak awal sudah mempesona Tik Swan. Sementara itu Pangeran Prabuwinoto membangkitkan minat Go Tik Swan pada karawitan Jawa. Ketika belajar di Jakarta, Tik Swan sering berkunjung ke rumah Prof. Poerbatjaraka dan berlatih menari Jawa di sana. Dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia ia bersama rombongannya diundang menari di istana. Tariannya sempat membuat Presiden Soekarno sangat terkesan karena Tik Swan memang menari dengan sangat bagus. Tik Swan pun saat itu sudah menggunakan nama Hardjono.
Ketika mengetahui bahwa keluarga Go Tik Swan Hardjono sudah turun-temurun mengusahakan batik, Soekarno menyarankan agar ia menciptakan "Batik Indonesia". Ia tergugah, lalu pulang ke Solo untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan falsafahnya. Hubungannya yang akrab dengan keluarga kraton Solo memungkinkan Tik Swan Hardjono belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Pola-pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum maupun pola-pola tradisional lain digalinya dan dikembangkannya tanpa menghilangkan ciri dan maknanya yang hakiki.

Pola yang sudah dikembangkan itu diberinya warna-warna baru yang cerah, bukan hanya coklat, biru dan putih kekuningan seperti yang lazim dijumpai pada batik Solo-Yogya. Lahirlah yang disebut "Batik Indonesia". Saat itu warna-warna cerah cuma dipakai pada batik Pekalongan, tetapi motif batik Pekalongan kebanyakan buketan (karangan bunga aneka warna) yang berbeda sekali dari motif batik Vorstenlanden (Solo dan Yogya) yang biasanya sarat makna.</div>

Biografi Sukap Jiman - Pencipta Lagu Lingsir Wengi

Biografi Profil Biodata Sukap Jiman - Pencipta Lagu Lingsir WengiSukap Jiman berusia 84 tahun adalah seorang penulis lagu Lingsir Wengi. Warga Rt 02 Rw VIII, Kebon Baru, Pucangan, Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah ini banyak mencipta lagu yang fenomenal dan bertolak belakang dengan kehidupannya sehari-hari. Siapa yang tidak kenal dengan lagu Lingsir Wengi. Lagu ini sangat fenomenal dikalangan masyarakat dan identik dengan hal-hal yang berbau mistis. Sebagian orang menganggap bahwa lagu ini ditujukan untuk memanggil makhluk halus, namun ada juga yang beranggapan bahwa lagu ini sebagai penolak bala. 

Sukap menuliskan ide-ide kreatifnya sebanyak 14 karya lagu, tapi yang paling terkenal Lingsir Wengi. Lagu itu dia buat pada tahun 1995 namun viralnya pada tahun 2000. Dulu lagunya dibawakan oleh bebrapa penyanyi lokal seperti Wuryanti, Ani Suyanti, Agus Zakaria, Didi Kempot, Nurhana. Saat ditanya mengenai arti dari lagu Lingsir Wengi miliknya, ia mengingat dengan detail asal-usul ciptaannya tersebut. Lagu itu menceritakan seorang anak muda yang sedang jatuh cinta, lalu pada malam harinya, ia terngiang-ngiang oleh gadis pujaannya.
Dengan semangat, Sukap menceritakan jika karya-karyanya itu semua berasal dari pengalaman pribadi yang ia tuangkan dalam lagu. Semua lagunya bertemakan kisah cinta dan pengorbanan. Ketika ditanya mengenai Lagu Lingsir Wengi yang sedang hangat diperbincangkan karena dianggap dapat digunakan untuk memanggil makhluk halus, Sukap membantahnya. Dengan tegas ia menjelaskan jika lagu Lingsi Wengi “Mistis” itu bukan darinya, namun lagu itu merupakan Tembang Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Lagu Lingsir Wengi miliknya semakin terkenal karena dibawakan oleh penyanyi keroncong terkenal Didi Kempot. 

Lagu Lingsir Wengi ciptaan Sukap, liriknya berbeda jika disandingkan dengan tembang Lingsir Wengi ciptaan Sunan Kalijaga. “Lagu Lingsir Wengi yang mistis itu merupakan Tembang Jawa ciptaan Sunan Kalijaga, kalau judul yang bisa sama saya juga kurang tahu. Tapi lagu saya dari kata “Lingsir” atau “Lengser” yang artinya "berganti", sedangkan “Wengi” atau "malam", jadi saat membuat lagu itu, saat waktu malam berganti hari.” lanjutnya.

5 Sinden Cantik Dalang Ki Seno Nugroho Yogyakarta

Biografi Profil Biodata 5 Sinden Cantik Dalang Ki Seno Nugroho dari YogyakartaKi Seno Nugroho adalah seorang dalang kondang yang merupakan putra asli Yogyakarta. Beliau lahir di Kampung Mangkukusuman, Kelurahan Baciro, Yogyakarta pada tanggal 23 Agustus 1972. Seno Nugroho merupakan putra ke Empat dari pasangan Suparman Cermo Wiyoto dan Ibu Sayekti, dimana Ki Suparman juga merupakan dalang kondang semasa hidupnya dulu. 

Sejak peninggalan Ayahnya Ki Suparman, Seno Nugroho semakin menekuni profesinya sebagai dalang. Ki Seno Nugroho mendirikian grup wayang sendiri dengan membentuk grup karawitan bernama Wargo Laras. Nama Wargo Laras sendiri dulu merupakan grup karawitan sang Ayah Ki Suparman yang kini dipakai kembali sebagai nama grup karawitan Ki Seno Nugroho untuk mengenang sang Ayah. 

Dalam 10 tahun terakhir ini nama Ki Seno Nugroho sangat populer dan kondang. Karena laris dan padatnya jadwal mendalang Ki Seno Nugroho inilah maka beliau mendapatkan julukan ” Dalang Seribu Satu Malam ”. Ki Seno sangat pintar dan selektif dalam memilih Sinden. Sinden yang selalu mendampingi pementasanya selain memiliki kualitas suara yang tidak diragukan, tapi juga dapat menambah kelucuan dan terlihat kompak saat tampil terutama waktu sesi Limbukan dan Goro-goro. 

Sebut saja seperti Mbak Prastiwi yang dijuluki Spongebob, Mbak Tatin yang cantik, Mbak Orisa yang Centil, Mbak Ayu yang fasih gaya sunda, dan yang fenomenal saat ini adalah dengan hadirnya sinden asal Sulawesi yaitu Mbak Elisa Orcarus Alaso. Dan yang terbaru ada sinden muda bernama Mbak Anting yang tidak lain adalah anak dari dalang Ki Sun Gondrong. 

1. Nyi Prastiwi Rahayu, Pesinden senior di Yogyakarta, putra dari pesinden terkenal Purwanti. Perannya di Warga Laras cukup sentral karena menjadi salah satu acuan Pesinden muda lainnya.

2. Tatin Lestari Handayani, salah satu pesinden Warga Laras. Tatin sukses menjadi salah satu ikon pertunjukan wayang kulit Ki Seno Nugroho selama ini. Tatin adalah seorang sarjana seni lulusan ISI Yogyakarta. Tatin berasal desa Gembongan Kulonprogo Yogyakarta , ibunya juga seorang pesinden senior bernama Sri Lungid, dulunya adalah pesinden dari Almarhum Dalang Ki Hadisugito. 

3. Agnes Silvia, salah satu sinden yang kerap didaulat menyanyikan lagu Campursari dan Dangdut. Agnes mengenyam pendidikan seni jurusan karawitan. Ia sudah ikut pentas Ki Seno sejak kelas 2 SD. Darah seni Agnes mengalir dari Ibunya yang juga seorang pesinden dan sang kakek yang juga seorang Dalang.

4. Elisha Orcarus Allasso berprofesi sebagai sinden dan sering tampil dalam pertunjukan wayang. Dirinya merupakan lulusan Fakultas Seni Pertunjukan jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Minat dan bakatnya terhadap pewayangan terbilang cukup besar. Elisha kerap bercanda dengan dalang sehingga memancing tawa dari penonton. Selain kelucuannya, paras ayu pesinden muda itu saat tampil juga kerap mencuri perhatian. 

5. Anting Lambangsih adalah sinden yang merupakan anak dari dalang Ki Sun Gondrong. Anting kini tengah mengikuti ajang Lida 2021 Liga Dangdut Indonesia di Indosiar. Ki Sun Gondrong (Srinanjoyo) bernama asli Sunsahrin adalah putra tunggal sinden legendaris Bu Sayem Asal Desa Mirigambar Kecamatan Sumbergempol,Kabupaten Tulungagung.
Ki Seno Nugroho termasuk dalang yang sering memakai Punokawan Bagong sebagai pemeran kunci dalam setiap pementasannya. Hal itu termasuk menjadi ciri khas Ki Seno Nugroho. Ketika beliau membawakan peran Bagong maka terlihat sangat fasih dan sangat lucu, dan sering sekali mengundang gelak tawa para penonton. Ternyata dalam menjalankan lakon Bagong ini Ki Seno Nugroho terinspirasi oleh seorang Dalang yang bernama Ki Sukron Suwondo yang berasal dari Blitar Jawa Timur. 

Kehilangan mendalam dirasakan para penggemar pertunjukkan wayang kulit yang dimainkan Ki Seno Nugroho. Terlebih para punggawa Karawitan Warga Laras yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pagelaran wayang kulit Ki Seno Nugroho. Dalang yang sukses memasyarakatkan kesenian wayang kulit pada kaum milenial ini tutup usia di umur 48 tahun pada hari Selasa (3/11/2020).

Biografi Prie GS atau Supriyanto Budayawan Kendal

Biografi Profil Biodata Prie GS Budayawan Kendal yang Meninggal karena Serangan JantungBudayawan Supriyanto GS atau yang lebih dikenal dengan Prie GS kelahiran Kendal, Jawa Tengah kelahiran Kendal, 3 Februari 1964 meninggal akibat serangan jantung pada Jumat, 12 Februari 2021. Kabar meninggalnya Prie GS tersebut dibenarkan oleh Tista Pratista, selaku asisten Prie GS. "Benar, pukul 06.30 WIB," ujarnya, Jumat (12/2/2021). 

Prie GS mengawali kariernya menjadi wartawan di Harian Umum Suara Merdeka, Semarang, Jawa Tengah. Prie juga dikenal sebagai kartunis, penyair, penulis, dan public speaker di berbagai seminar. Melansir situs resmi RRI, selepas SMA, Prie GS menekuni dunia kartunis, dan sempat belajar khusus kepada kartunis kawakan dari Harian Umum Kompas, G.M. Sudarta. 


Perjalanan karier Setelah lulus dari bangku SMA, Prie GS melanjutkan pendidikan di jurusan seni musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Semarang. Di tempat ini, kemampuannya semakin terasah. Saat menjadi wartawan, Prie lebih banyak memegang rubrik bermuatan kesenian, dengan rutin setiap minggunya menggambar kartun di surat kabar tempatnya bekerja.

Dituliskan situs Taman Budaya Jateng, Prie pernah menjadi pemimpin majalan wanita Cempaka. Walau sempat menjadi mahasiswa jurusan seni musik, Prie GS memilih menjadi seorang kartunis hingga sekarang. Prie GS juga pernah menggelar pameran kartun di Tokyo, Jepang atas undangan The Japan Foundation. 

Banyak ilmu yang didapat di sana, terutama saat mempunyai kesempatan berdiskusi dalam satu meja dengan para komikus dan animator tersohor di negeri itu. Prie juga pernah menjajal kemampuannya sebagai aktor dengan bergabung di Teater Dhome Semarang saat menggarap repertoar Umang-umang atawa Orkes Madun karya Arifin C. Noer. Di Teater Aktor Studio, Prie bersama Joshua Igho menjadi ilustrator musik untuk repertoar Jembatan Mberok. 

Menjalani hidup sebagai wartawan, penulis kolom, dan kartunis semakin menambah wawasan Pri GS luas, dan ini yang membawanya terjun sebagai public speaker. Prie sering diundang sebagai pembicara, motivator, dan pengasuh acara-acara bertema budaya. Kemampuannya mengolah rasa menjadi modal yang terus diminati oleh banyak lembaga untuk meminta siraman-siraman bernas darinya, antara lain Markas Besar TNI Angkatan Laut Cilangkap, memberikan refleksi sosial di hadapan para jenderal dan perwira Angkatan Laut. 

Tak hanya itu, berbagai perusahaan besar juga pernah mengundangnya seperti PT Telkom, PT Coca-Cola, Indonesiai Power, Bank Indonesia, PT PLN, PT Telkomsel, dan lain-lain. Sementara itu, di ranah hiburan radio dan televisi, sampai sekarang Prie juga menjadi host untuk acaranya refleksi. Banyak karya-karya yang telah diterbitkan baik puisi, cerpen, kolom, kartun, maupun buku-buku humor, karena sejak memulai debutnya sebagai seniman, setiap pekan dia selalu menulis dan menggambar untuk diterbitkan di media massa. 

Buku-bukunya antara lain: Nama Tuhan di Sebuah Kuis (2003) Merenung Sampai Mati (2004) Mari Menjadi Kampungan (2005) Hidup Bukan Hanya Urusan Perut (2007) Ipung, novel motuivasi Pembangkit Kepercayaan Diri (2008) Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia (2009) Indonesia Jungkir Balik (2012) Hidup ini Keras, Maka Gebuklah (2012) Waras di Zaman Edan (2013) Indonesia Tertawa, Hidup Boleh Susah, Jiwa Tetap Bahagia (2014) Mendadak Haji (2016)

Profil Ki Anom Subekti - Dalang Wayang Rembang

Biografi Profil BiodataKi Anom Subekti adalah dalang wayang kulit yang dikenal di Jawa Tengah. Ki Anom dikenal memiliki pribadi yang sangat ramah kepada siapapun, bahkan tidak sedikit dalang-dalang muda yang terinspirasi dengan sosok Ki Anom. Beliau dikenal sebagai seorang seniman serba bisa, banyak seniman muda yang mengidolakan Ki Anom Subekti sebagai sebagai panutan. 

Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, tetapi karena belia mahir di berbagai jenis kesenian tradisional yang ada contohnya sebagai dalang wayang kulit, dalang wayang wong dan ketoprak jawa. Ki Anom Subekti dikenal dikenal sebagai sosok yang dekat dan dermawan kepada semua orang. Ki Anom bahkan pernah tampil tanpa di bayar. Ada pula seniman lain yang pernah membeli gamelan dari almarhum tetapi almarhum tidak mempermasalahkan kekurangan.

Ki Anom Subekti ditemukan tak bernyawa pada Kamis pagi, 4 Februari 2021. Jasad Ki Anom ditemukan di lingkungan tempat tinggal pribadinya, Padepokan Seni Ongkojoyo, Desa Turusgede, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang. Pada saat ditemukannya jasad Ki Anom berada di atas tempat tidur kamarnya. Ditemukan tiga jasad lain diranjang yang berbeda. Tri Purwati (50), Alfitri Saidatina (13) dan Galuh Lintang Laras (12), juga ditemukan sudah tidak bernyawa. Mereka adalah istri, anak dan cucu Ki Anom Subekti. Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh AKBP Kurniawan Tandi Rongre, motif pembunuhan Ki Anom Subekti diduga karena dendam. Sebab tidak ada barang-barang yang hilang di TKP.

Menurut salah satu narasumber yang bisa diwawancarai, sempat terdengar suara sepeda motor dengan knalpot yang bising terdengar sempat berputar di daerah rumah beliau. Jasad korban ditemukan oleh Suti, asisten rumah tangga beliau. Suti melihat pagar rumah sudah terbuka lantas ia langsung memasuki rumah dan menemukan jasad majikannya tergeletak tak bernyawa. Menurut hasil otopsi Tim Forensik Polda Jateng keempat korban ditemukan dengan luka memar bekas dihantam benda tumpul di bagian kepala, karena di kepala masing-masing korban ditemukan ada pendarahan di kepala dan kejadian terjadi tengah malam saat korban sedang tidur.

Biografi Ki Seno Nugroho Dalang Wayang Kulit

Biografi Profil Biodata ki seno meninggal karenaKi Seno Nugroho yang lahir di Yogyakarta, 23 Agustus 1972 – meninggal di Sleman, Yogyakarta, 3 November 2020 pada umur 48 tahun adalah seniman dan dalang wayang kulit berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas sebagai dalang melalui pergelaran wayang kulit yang memadukan antara gagrag Surakarta dan gagrag Yogyakarta. Kekhasan lainnya yang membuat terkenal adalah saat menampilkan panakawan (Semar, Garèng, Pétruk, Bagong) dengan guyonan yang spontan, kontekstual, aktual, dan lucu. Selain mendalang di Indonesia, Seno Nugroho juga pernah diundang tampil di negara Belanda dan Belgia. Seno Nugroho lahir di Yogyakarta, 23 Agustus 1972. Mulai menggeluti dunia pedalangan sejak usia 10 tahun, dan mengawali kariernya sebagai dalang pada usia 15 tahun, saat masih duduk di Sekolah Menengah Kesenian Yogyakarta. Kekagumannya terhadap sosok Ki Manteb Soedharsono yang membuat dia tertarik pada pedalangan dan terus menggelutinya. Hingga akhir hayatnya, Seno belum mempunyai sanggar pedalangan sendiri, tetapi sesekali beberapa orang dari mancanegara belajar mendalang padanya. Dia juga mempunyai kelompok karawitan sendiri yang diberi nama Wargo Laras dengan jumlah anggotanya kurang lebih 50 orang. Pada tanggal 3 November 2020, Seno Nugroho dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 22.15 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Biografi Benyamin Sueb Tokoh Seniman Betawi

Biografi Profil Biodata Benyamin Sueb di logo google doodleBenyamin Sueb (lahir di Batavia, 5 Maret 1939 – meninggal di Jakarta, 5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeran, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.

Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron atau film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Hajj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.


Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya.

Profil Tokoh Penemu Batik Pertama di Indonesia

Biografi Profil Biodata Penemu Batik Pertama Kali di Indonesia - Hari Batik NasionalHari Batik dan Perkembangan Batik di Indonesia - Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

Hokky Situngkir, menemukan metode motif batik fraktal - Usianya masih relatif muda untuk seoarang ilmuwan yang telah memberikan sumbangsih dengan membuktikan batik bukan ornamen tetapi lukisan yang disejajarkan dengan karya Raphael, Leonardo da Vinci, atau Michelangelo. Karena banyak orang yang beranggapan kalau batik hanya sebuah rangkain ornamen yang biasa. Ini yang menjadikan ilmuwan muda ini tertarik untuk menelitinya dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Ilmuwan ini bernama Hokky Situhung, yang dilahirkan di kota Pematangsiantar, Sumatra Utara pada tahun 7 Februari 1978. Masa kecilnya dihabiskan di kota kelahirannya ini, begitu juga dengan pendidikan sekolahnya hingga sekolah menengah atas (SMA). Kemudian dia melanjutkan pendidikan di pulau Jawa dan memilih di ITB dengan mengambil jurusan teknik elektro.

Pada awal ketertarikan dia itu dimulai dengan mempelajari teori kompleksitas yang dikembangkan Santa Fe Institue. Sebuah lembaga riset yang berada New Mexico, Amerika Serikat. Selanjtunya dia ingin mempelajari batik, alasannya batik itu sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia. Tahap kemudian, dia mengumpulkan berbagai motif batik yang sangat beraneka ragam di Indonesia. Setelah terkumpul batik itu diterjemahkan kedalam rumus fraktal dan matematika. Hasil dari penerjemahan itu dilanjutkan dengan dimodifikasi dengan komputer yang menghasilkan desain baru yang beragam. Keragaman ini terlihat dari beberapa hal mulai dari grafis, warna, ukuran, maupun sudut perulangannya. Dampaknya ini proses pembuatan motif batik fraktal dapat memecahkan masalah keterbatasan motif batik yang dapat menghasilkan banyak motif secara tepat.

Seperti yang dikemukakan oleh Hokky, bahwa pola frakal juga terlihat pigmentasi kerang, pola sulir cekang kerang, bentuk-bentuk rumit bunga salju, atau pertumbhan sel kanker. Pola pikir dengan geomtri frakal ini , juga digunakan untuk membuktikan pengukuran di setiap jengkal dari candi Borobudur. Penemuan ini telah banyak memberikan banyak sumbangsih terhadap rahasia-rahasia yang selama ini dianggap sebuah hal yang mitis dan tidak bisa di lihat oleh science. Kini dia menjabat sebagai presiden Bandung Fe Institute, sebuah lembaga penelitian. Selain menjabat di Bandung Fe Institute, dia juga aktif sebagai peneliti di Center for Complexities. Lewat penemuannya ini dia mendapat julukan sebagai “Bapak Kompleksitas Indonesia” gelar ini diberikan oleh Prof. Yohanes Surya, Ph.D.

Penemu Batik Sutra - Di Pekalongan batik menjadi karya seni yang diproduksi secara massal dalam berbagai bentuk dan motif. Salah satu perkembangan seni batik yang sudah populer adalah batik sutra. Motif batik yang digoreskan di atas bahan yang terbuat dari serat ulat sutra, saat ini menjadi salah satu jenis batik yang banyak dicari, khususnya di kalangan menengah ke atas dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, meski menjadi salah satu produk yang terkenal di seantero negeri, tak banyak yang tahu siapa yang pertama kali menemukan ide pembuatan batik di atas kain sutra tersebut. Batik sutra yang sangat laris sejak tahun 1985, ternyata ditemukan pertama kali oleh H Soesilo (67), salah satu perajin batik dari Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.

Perajin batik tulis beranak enam itu mengaku, pertama kali menemukan batik sutra sekitar tahun 1970. Waktu itu, dia sudah keliling ke berbagai daerah dan belum ada jenis batik yang dibuat dari kain sutra. Penemuan dan pengolahan batik sutra pertama kali, kata dia, sangat sulit. Dia mengaku harus melakukan uji coba sampai satu tahun, baru bisa berhasil membuat batik sutra yang layak untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Selain harus uji coba berulang-ulang, Soesilo mengaku, harus siap menerima ejekan banyak orang yang tahu bahwa dirinya membuat batik di atas kain sutra. Namun, dia tak memedulikan itu dan tetap melakukan uji coba, hingga kemudian berhasil membuat batik sutra, yang sekarang menjadi pakaian untuk acara resmi kalangan menengah ke atas.

Batik sutra temuannya mulai diperkenalkan dan diterima masyarakat sekitar tahun 1978 dan mulai laris sekitar tahun 1980-an. Hingga puncaknya pada 1985, batik sutra menjadi salah satu jenis batik yang banyak dicari, khususnya oleh kalangan menengah ke atas. Meledaknya produk batik sutra waktu itu, mendorong munculnya beberapa jenis batik yang meniru sutra. Jenis batik yang sepintas sama dengan sutra asli itu, bahkan ikut laris dan banyak dicari karena harganya jauh lebih murah dari sutra asli. Meski telah menemukan jenis batik yang sudah terkenal di seantero negeri dan banyak ditiru, tapi Soesilo mengaku tak akan mematenkan hak ciptanya. Penemu Teknik Batik di Atas Kain Likra - Carmanita berhasil memadukan batik dengan bahan likra (lycra) yang berserat renggang. Penghargaan MURI diserahkan pada bulan Mei 2009. Nomor Rekor MURI-0011-001 Pembuat Rekor Carmanita Tanggal Rekor Mei 2009 #Lihat pula : Profil dan Biodata Tokoh Nasional Batik Indonesia

Sampan Hismanto - Semar Ria Jenaka TVRI

Biografi Profil Biodata Sampan Hismanto - Semar Ria Jenaka TVRISampan Hismanto (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 11 Oktober 1925; umur 93 tahun) adalah seniman tari Indonesia. Selain itu ia juga terkenal sebagai perannya sebagai Semar dalam acara Ria Jenaka yang ditayngkan TVRI pada era 1980-an. Sampan adalah pencipta dan penata tari Indonesia. Ia memulai kegiatan tari sejak tahun 1943 dalam perkumpulan Siswa Mataya di Bale Kambang, Solo, dan berguru kepada para ahli-ahli tari terbaik baik dari Kasunanan maupun Mangkunegaran. Kemampuannya menari yang menonjol telah membawanya ke acara-acara kesenian di istana kepresidenan, di mana ia dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh tari daerah lain seperti Tjetje Somantri, I Marya, Sauti, Sjaugi Bustami, dan lain lain.

Karier

Ketua BKKNI DKI
Ketua Sekretariat Bersama Wayang Orang Indonesia / WOPA Pusat
Ketua Himpunan Seniman Muda Indonesia (HSMI)
Pemilik sanggar Sampan Bujana Sentra

Penghargaan

Koreografer Tari Terbaik (1973 & 1974)
Penghargaan Seniman Tari terbaik dari Gubernur DKI Jakarta (1996)

Ria Jenaka adalah acara televisi yang pernah disiarkan oleh TVRI setiap hari Minggu pagi. Menghadirkan tokoh-tokoh punakawan Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong yang diperankan antara lain oleh Ateng (sebagai Bagong), Slamet Harto (sebagai Gareng - sebelumnya diperankan oleh Suroso), Sampan Hismanto-seorang penata tari (sebagai Semar), dan Iskak (sebagai Petruk). Acara ini biasanya memiliki cerita yang singkat dan padat pesan sosial. Dalam beberapa episode-nya beberapa tokoh ditambahkan sebagai pelengkap yaitu Mono (diperankan oleh Teten Ahmad) dan Sup Yusup. Acara ini diprakarsai oleh Bpk Drs. H. Subrata, saat itu salah seorang direktur TVRI, agar program-program pemerintah dapat disosialisasikan dengan baik. Adapun memilih performer punakawan karena mengingat sifatnya yang dekat dengan masyarakat.

Biodata Rita Tila - Penyanyi dan Sinden Cantik Tatar Sunda

Biografi Profil Biodata Rita Tila dan SuleRita Tila yang lahir di Sukabumi, 16 Desember 1984 adalah sinden asal Jawa Barat yang juga menjadi penyanyi lagu pop Sunda. Dia juga merupakan seorang dosen di ISBI Bandung. Rita Tila dikenal sebagai sinden sohor yang memiliki suara emas dengan deretan prestasi gemilang. Rita juga dikenal sebagai salah satu sinden terbaik yang dimiliki Jawa Barat saat ini. Lahir dari keluarga besar seniman, Rita Tila bahkan sudah berkenalan dengan kesenian sunda sejak masa balita. Bahkan ketika kelas 5 Sekolah Dasar Rita sudah mendapat kepercayaan sebagai penyanyi sunda cilik dan menjadi titik awal kariernya masuk dunia rekaman sebagai penyanyi cilik mewakili Jawa Barat dalam album "Kawih Degung Murangkalih". Dia sudah mengeluarkan lebih dari 20 album lagu-lagu sunda.

Bakat besar Rita Tila dalam membawakan kawih-kawih sunda pun kian terasah seiring bertambahnya usia. Terlebih ketika Rita menginjak pendidikan di SMP dan SMA, Rita kecil yang kerap didaulat menjadi perwakilan duta seni mampu menorehkan berbagai prestasi membanggakan mulai dari Juara 1 Perlombaan Pupuh dan Tari Jaipong, Juara 1 Nyanyi Dangdut Se- kabupaten Sukabumi,Juara 1 Kawih Se-Jawa Barat, Juara 1 dan Favorit Kawih Sunda Se-Jawa Barat, Juara 1 Pop Singer Tingkat Nasional, Juara 1 Penyanyi Daerah Terbaik Tingkat Nasional di TMII, Juara Pinilih Tembang Sunda Se-Jawa Barat, Juara 1 dan Favorit Kepesindenan PialaTitim Fatimah, hingga anugerah Penghargaan dari Gubernur Jawa barat Sebagai Penyanyi Pop Sunda Berprestasi.

Apa yang didapatkan Rita hasil kerja keras, perjuangan dan semangat berkarya menjadi motivasi. Menyadari kondisi ekonomi keluarga yang serba kesulitan, Rita mengaku perjuangannya di masa anak-anak hingga remaja sangatlah getir. Berjualan di masa anak-anak, kemudian menjadi sinden dan mencari pekerjaan dari festival ke festival sudah menjadi bagian dari perjalanan Rita. Buah perjuangan itupula yang pada akhirnya mengantarkan Rita Tila bukan hanya menjadi bintang besar yang piawai dengan berbagai jenis nyanyian sunda mulai dari pesindenan, Pupuh, Cianjuran serta piawai memainkan berbagai alat musik. Rita mengungkapkan, salah satu kebanggaan bagi dirinya sebagai sinden adalah partisipasinya dalam turut memperkenalkan seni sunda hingga mancanegara. Terlebih melihat respon positif masyarakat luar negeri yang begitu respect terhadap kesenian sunda.

Totalitas Dalam berkesenian hingga menjadi sinden yang sukses melanglangbuana hingga empat benua tak lantas menjadikan seorang Rita Tila lupa akan kewajibannya terhadap pendidikan. Sebaliknya, Rita mengaku pendidikan menjadi hal penting yang harus dikejarnya sampai kapanpun. Komitmen itulah yang terus dijaga Mahasiswi Pasca Sarjana ISBI Bandung ini. Menurut Rita, pendidikan formal tentu merupakan pendukung terhadap karier yang sejak kecil digelutinya. Karenanya dalam mengambil jalur pendidikan formal, Rita juga senantiasa menyesuaikannya dengan bakat seni yang dimilikinya.

Biografi Profil Biodata Rita Tila dan SuleLebih lanjut lulusan UPI Bandung ini menambahkan, komitmen dalam mengejar pendidikan formal merupakan impiannya sejak kecil. Karenanya, meski masa kecilnya harus dijalani dengan kerja keras dari panggung ke panggung, tak pernah terlintas sedikitpun baginya untuk keluar dari bangku sekolah. Kini, wanita yang sukses dalam berbagai rangkaian festival dunia seperti Tour Eropa bersama Samba Sunda, Asia Tour, Perwakilan Seniman Berprestasi Jawa Barat Goes To Amerika, Holland in Mundial Festival dan serangkaian festival luar negeri lainnya ini bahkan bertekad ingin mengabdikan dirinya lebih bermanfaat lagi.

Menurutnya, sebagai bagian dari upaya menjaga budaya sunda, ke depan ia berharap dapat mengabdikan dirinya untuk memberikan pelajaran gratis seni sunda bagi generasi muda. Dia berharap asa mulia tersebut dapat digulirkannya dengan segera. Lebih lanjut pemilik album Kacapi Inovatif "Kalapa Kolot" ini menambahkan, selain menularkan bakat seninya kepada generasi muda, dalam upaya mempopulerkan seni sunda selama ini dirinya senantiasa mengikuti tuntutan zaman. Hasilnya berbagai kolaborasi seni sunda dengan corak modernpun menurut Rita menjadikan karya-karya seni yang luar biasa indah. Hal itulah yang juga menyiratkan rasa bangga bagi dirinya sebagai seniman sunda.

Ki Enthus Susmono Dalang Kondang Bupati Tegal

Biografi Profil Biodata Ki Enthus Susmono Meninggal Dunia Bupati Tegal Ki Dalang KondangKi Enthus Susmono yang lahir di Kabupaten Tegal, 21 Juni 1966 – meninggal di Kabupaten Tegal, 14 Mei 2018 pada umur 51 tahun adalah seorang dalang berkebangsaan Indonesia. Pada tanggal 8 Januari 2014, ia dilantik sebagai Bupati Tegal oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, untuk periode 2014-2019. Karena ketokohannya di dunia pedalangan, pada tahun 2005, dia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang seni-budaya dari International Universitas Missouri, Amerika Serikat dan Laguna College of Business and Arts, Calamba, Filipina (2005). Selain berbagai penghargaan telah diterima, ratusan karyanya juga tersimpan dalam museum antara lain di Belanda, Jerman, dan New Mexico.

Enthus dibesarkan dari lingkungan keluarga dalang. Ia adalah anak semata wayang Soemarjadihardja, dalang wayang golèk Tegal dengan istri ke-tiga bernama Tarminah. Bahkan kakek moyangnya, R.M. Singadimedja, merupakan dalang terkenal dari Bagelen pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram. KI Enthus, begitu sapaannya, dengan segala kiprahnya yang kreatif, inovatif serta intensitas eksplorasi yang tinggi, telah mengantarkan dirinya menjadi salah satu dalang kondang dan terbaik yang dimiliki Indonesia. Pikiran dan darah segarnya mampu menjawab tantangan dan tuntutan yang disodorkan oleh dunianya, yaitu jagat pewayangan.

Gaya sabetannya yang khas, kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya. Ia juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisi (gamelan)[2]. Kekuatan mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya pakeliran-nya menjadi hidup dan interaktif. Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artisitik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur. Pada tahun 2005, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur. Dan pada tahun 2008 ini dia mewakili Indonesia dalam event Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.

Ia adalah salah satu dalang yang mampu membawa pertunjukan wayang menjadi media komunikasi dan dakwah secara efektif. Pertunjukan wayangnya kerap dijadikan sebagai ujung tombak untuk menyampaikan program-program pemerintah kepada masyarakat seperti: kampanye; anti-narkoba, anti-HIV/Aids, HAM, Global Warming, program KB, pemilu damai, dan lain-lain. Di samping itu dia juga aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media Wayang Wali Sanga[3].

Kemahiran dan ‘kenakalannya’ mendesain wayang-wayang baru/kontemporer seperti wayang George Bush, Saddam Hussein, Osama bin Laden, Gunungan Tsunami Aceh, Gunungan Harry Potter, Batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain membuat pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, dan mampu menembus beragam segmen masyarakat. Ribuan penonton selalu membanjiri saat ia mendalang. Keberaniannya melontarkan kritik terbuka dalam setiap pertunjukan wayangnya, memosisikan tontonan wayang bukan sekadar media hiburan, melainkan juga sebagai media alternatif untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.

Biografi Bagong Kussudiardja - Tokoh Budayawan

Biografi Profil Biodata Bagong Kussudiardja - Pelukis dan KoreograferBagong Kussudiardja (lahir di Yogyakarta, 9 Oktober 1928 – meninggal di Yogyakarta, 15 Juni 2004 pada umur 75 tahun) adalah seorang Koreografer dan Pelukis Indonesia. Bagong memulai kariernya sebagai penari Jawa klasik di Yogyakarta pada 1954. Ia berkenalan dengan seni tersebut melalui Sekolah Tari Kredo Bekso Wiromo, yang dipimpin oleh Pangeran Tedjokusumo, seniman tari ternama.

Bagong mendirikan Pusat Latihan Tari (PLT) pada 5 Maret 1958 dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 2 Oktober 1978. Selama hidupnya, lebih dari 200 tari telah diciptakan, dalam bentuk tunggal atau massal, diantaranya; tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, dan Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng (1980-an).

Orang tua Bagong, RB Tjondro Sentono menikah dengan Siti Aminah, Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah Kus Sumarbirah, Bagong Kussudiardja, Handung Kussudyarsana, dan terakhir Lilut Kussudyarto. Kakeknya, Gusti Djuminah konon adalah putra mahkota Sultan HB VII yang karena membelot, terpaksa harus menjalani hukuman kurantil (pengasingan).

Biografi Profil Biodata Bagong Kussudiardja - Pelukis dan KoreograferIa adalah ayah dari Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto. Kakek enam cucu ini juga pelukis, bahkan termasuk perintis seni lukis batik kontemporer. Ia juga pernah bermain film, antara lain dalam Kugapai Cintamu. Pada 1985, ia menerima Hadiah Seni Pemerintah RI, dan penghargaan Sri Paus Paulus VI atas fragmennya Perjalanan Yesus Kristus. Untuk lukisan abstraknya yang dipamerkan di Dacca, ia beroleh medali emas dari pemerintah Bangladesh pada 1980.

Pada Desember 1984, Bagong memulai perjalanan lima bulan ke tujuh negara Eropa. Bersama 14 penari, ia mengadakan 69 kali kegiatan: pentas tari, seminar, lokakarya, pameran batik, dan demonstrasi melukis batik. Pada Hari Kebangkitan Nasional di Jakarta, 20 Mei 1985, ia mempertunjukkan Pawai Lintasan Sejarah Indonesia, didukung 710 penari dan figuran. Sebulan kemudian, Bagong beserta 100 penari muncul di pesisir Parangtritis, 27 km di selatan Yogyakarta. Pentas tari kreasinya berjudul Kita Perlu Berpaling ke Alam dan Bersujud pada-Nya. Bulan berikutnya ia dengan 15 penari manggung di Malaysia, mementaskan tari Gema Nusantara, Igel-igelan, dan Ratu Kidul. Pada 5 Oktober 1985 di Jakarta, ia menampilkan Pawai Lintasan Sejarah ABRI yang melibatkan 8.000 seniman, militer, hansip, dan veteran.

Masa kecilnya yang sulit, kendati ia cucu G.P.H. Djuminah, kakak Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, membuat Bagong suka bekerja keras. Ayahnya, pelukis wayang dan penulis aksara Jawa, kurang mampu menopang kehidupan keluarga. Bagong harus melakoni berbagai pekerjaan seperti menambal ban dan jadi kusir andong.

Biografi Agus Nur Amal - PM Toh Pendongeng

Biografi Profil Biodata PM Toh atau Agus Nur Amal - Wikipedia Bahasa IndonesiaAgus Nur Amal atau PM. TOH adalah salah satu pendongeng yang sudah tak asing lagi namanya di ranah seni pertunjukan Indonesia. Pria yang lahir dan besar di Aceh 40 tahun silam ini biasa disapa Bang Agus memiliki galeri PM. TOH di Jl. Rawasari Selatan I No 6, Jakarta Pusat yang terkesan “ramai”, penuh dengan beragam properti pentas. Properti berukuran kecil sampai besar tersebar rapi memenuhi dinding ruang tengah yang didesain dengan warna-warna cerah menyala. Galeri ini sekaligus juga adalah rumah kontrakan yang dihuni oleh seniman dari berbagai kalangan: tari, teater, dan musik.

Sekitar tahun 1991 dia kuliah di jurusan teater IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan setelah itu dia pulang ke Aceh. Di Aceh model pencerita itu banyak sekali, jadi setelah dia pikir-pikir dia memilih story telling dengan mendongeng. Di kampungnya sendiri sudah ada tradisi mendongeng, dia belajar selama setahun di sana, lalu kembali lagi ke Jakarta tahun 92. PM. TOH sendiri adalah nama seorang tokoh tradisi yang ada di Aceh.

Biografi Profil Biodata PM Toh atau Agus Nur Amal - Wikipedia Bahasa IndonesiaBeliau pendongeng yang dia kagumi dan dengannnya dia ikut keliling kemana-mana, bantu pentas sekaligus belajar juga. Itu dia lakukan selama setahun. Namanya kemudian dia pakai untuk nama panggungnya. Solo performance jadi pilihan untuk tidak berkelompok, lebih efektif, sederhana, dan murah. Dia nggak susah mikir bagaimana harus mengatur hal-hal sebagaimana kalau berkelompok. Dengan ini dia bisa pentas keliling sendiri atau berdua dengan asisten sekaligus kru PM. TOH.

Profil Panglima Burung Sosok Sakti Suku Dayak

Biografi Profil Biodata Panglima Burung - Sosok Sakti Suku DayakPanglima Burung merupakan sosok yang dipuja dan dihormati oleh orang Dayak. Ia adalah pahlawan yang akan membantu orang-orang Dayak menyelesaikan masalah pelik yang berat. Konon, ketika Panglima Burung muncul, maka dipastikan hal sebesar apa pun akan segera mampu terselesaikan. Kehebatan suku Dayak di tanah Kalimantan merupakan yang paling disegani dan dihormati. Mereka sakti, jumawa, kharismatik, mistiknya yang masih kuat, membuat salah satu suku tertua di Indonesia ini juga begitu ditakuti. Panglima Burung banyak yang mengatakan jika tokoh satu ini berwujud manusia asli dengan fisik kuat dan sudah tua.

Namun, ada pula yang mengatakan jika Panglima Burung adalah sosok gaib yang dipanggil melalui ritual. Panglima Burung dikatakan mendiami pedalaman hutan Kalimantan selama ratusan tahun. Ia bersemedi di sana dan akan bertindak begitu dipanggil oleh anak cucunya. Sosok satu ini juga pernah dikatakan sebagai jelmaan burung Enggang, makhluk suci yang dikeramatkan oleh suku Dayak. Panglima Burung Sangat Baik Hati tapi Kejam Jika Marah - Panglima Burung dikatakan sebagai representasi orang Dayak. Dia sangat baik, ramah, tindak-tanduknya sangat sopan, serta sangat menghargai alam. Panglima Burung juga kalem, sabar dan tidak suka berbuat kerusakan. Intinya ia sama seperti orang-orang Dayak pedalaman pada umumnya.

Biografi Profil Biodata Panglima Burung - Sosok Sakti Suku DayakPanglima Burung dengan semua sifat baik itu berubah kalau kondisinya lain. Ketika Panglima Burung dipanggil karena adanya ancaman atau suatu bahaya yang menyangkut-pautkan orang Dayak, maka sosok satu ini berubah bengis. Ia sangat kejam dalam menghabisi musuhnya. Bahkan ia pantang kembali sebelum memenggal kepala musuh-musuhnya. Panglima Burung tidak akan muncul kalau tak ada hal penting yang terjadi. Tapi, untuk membujuknya datang, diadakan sebuah upacara pemanggilan yang bernama Mangkok Merah. Ritual ini dilakukan dengan cara mengumpulkan benda-benda khusus dan berfilosofi tinggi menurut orang Dayak, seperti bulu ayam, daun rumbia, tali simpul, dan lain sebagainya. Setelah terkumpul, bahan-bahan ini akan ditempatkan di sebuah mangkok merah.

Ritual ini tidak boleh sembarang dilakukan. Harus benar-benar dibicarakan dulu oleh para tetua. Ritual Mangkok Merah juga tidak bisa dibatalkan. Satu hal yang pasti, ritual ini akan membawa banyak korban. Banyak cerita yang beredar di masyarakat maupun internet tentang kesaktian sosok satu ini. Sering dikatakan jika Panglima Burung kebal terhadap benda tajam apa pun. Sehingga sangat sia-sia melawannya dengan memakai senjata. Sosok Panglima Burung juga memiliki kemampuan legendaris seperti bisa menerbangkan Mandau yang akan mencari korbannya sendiri. Ia juga bisa mencium bau musuhnya dengan sangat jelas hanya dari aroma dan darah. Satu hal lagi, ia juga punya mistis yang sangat kuat. Salah satu peristiwa besar yang konon dihadiri oleh Panglima Burung adalah kejadian pertikaian Sampit di tahun 2001 antara orang Dayak dan Madura.

Drs. Suyadi - Pak Raden di Film Boneka Si Unyil

Biografi Profil Biodata Suyadi Wikipedia - Tokoh Pak Raden di Film Si Unyil Meninggal WafatDrs. Suyadi (lahir di Puger, Jember, Jawa Timur, 28 November 1932 – meninggal di Jakarta, 30 Oktober 2015 pada umur 82 tahun) adalah pencipta Si Unyil, sebuah film seri televisi Indonesia. Suyadi menciptakan Si Unyil agar terdapat acara mendidik untuk anak-anak Indonesia pada tahun 1980-an. Kemudian, Unyil diformat ulang untuk sesuai dengan era tahun 2000-an, sehingga tetap dapat digemari anak-anak Indonesia. Hasil dari format ulang acara Si Unyil adalah Laptop Si Unyil. Ia juga dikenal sebagai Pak Raden dalam acara Unyil. Suyadi merupakan lulusan seni rupa Institut Teknologi Bandung (1952-1960) lalu meneruskan belajar animasi ke Prancis (1961-1963). #Lihat pula : Abdul Hamid - Pak Ogah Film Boneka Si Unyil

Biografi Profil Biodata Suyadi Wikipedia - Tokoh Pak Raden di Film Si Unyil Meninggal WafatSi Unyil adalah film seri televisi Indonesia produksi PPFN yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1981 sampai 1993, Minggu pagi di stasiun RCTI dimulai pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003 dan berpindah ke TPI pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB sebelum program berita Lintas 5. Si Unyil ini diciptakan oleh Suyadi. Ditujukan kepada anak-anak, film seri boneka ini menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (yang lalu akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya bisa mencapai posisi Sekolah Menengah Pertama) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya. Kata "Unyil" berasal dari "mungil" yang berarti "kecil". Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!" sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti "Cepek dulu dong!" Saat ini boneka-boneka si Unyil telah menjadi koleksi Museum Wayang di Jakarta.

Biografi Profil Biodata Suyadi Wikipedia - Tokoh Pak Raden di Film Si Unyil Meninggal WafatKabar duka datang dari tokoh kenamaan dalam serial boneka Si Unyil, drs Suyadi atau lebih dikenal dengan nama Pak Raden. Ia meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat, Jumat (30/10/2015) pukul 22.20 WIB. Sebelum mengembuskan napas terakhir, kondisi kesehatan Pak Raden sempat menurun drastis sejak siang. Pria yang dikenal dengan belangkon dan kumis lebatnya itu mengalami infeksi pada paru kanan. Suyadi meninggal pada tanggal 30 Oktober 2015 di Rumah Sakit Pelni Petamburan pada pukul 22.00 WIB. #Lihat pula : Abdul Hamid - Pak Ogah Film Boneka Si Unyil

Biografi Dalang Kondang Asep Sunandar Sunarya

Biografi Profil Biodata Asep Sunandar Sunarya jadi Logo Google DoodleAsep Sunandar Sunarya atau sering dipanggil Ki Asep Sunandar Sunarya (lahir di Bandung, Jawa Barat, 3 September 1955 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 2014 pada umur 58 tahun) adalah seorang maestro wayang golek di Indonesia. Selaku dalang wayang golek Asep Sunandar Sunarya (di rumahnya biasa dipanggil Abah, di udara sebagai breaker menggunakan nama Eyang Abiyasa) konsisten pada bidang garapannya, teu incah balilahan. Ia ditakdirkan untuk menjadi dalang oleh dalang yang sesungguhnya, yakni Tuhan. Ia begitu menyatu dengan dunia wayang golek yang Ia gelutinya sehingga penghargaan demi penghargaan, baik dari tingkat lokal, provinsi, nasional, bahkan manca negara Ia dapatkan. Tanpa adanya seorang Asep Sunandar Sunarya mungkin Cepot tidak akan sepopuler sekarang ini. Berkat kreativitas dan inovasinya, Ia berhasil meningkatkan lagi derajat wayang golek yang dianggap seni kampungan oleh segelintir orang. Peningkatan itu dilakukan dengan menciptakan wayang Cepot yang bisa mangguk-mangguk, Buta muntah mie, Arjuna dengan alat panahnya, Bima dengan gadanya begitu pula dengan pakaian wayangnya yang terkesan mewah.

Biografi Profil Biodata Asep Sunandar Sunarya jadi Logo Google DoodleMateri dan ketenaran ia dapatkan dari hasil berjuang tanpa henti dengan menghadapi berbagai dinamika kehidupan yang sering kali tidak atau kurang menyenangkan. Sebelum suka datang, tentu duka menghampiri, bahkan seringkali suka dan duka menyatu dalam rentang panjang perjalanan seorang Asep. Orang tidak banyak tahu bahwa perjalanan dalam profesinya sebagai dalang, demikian berliku. Tidak jarang, di awal kariernya Asep sering mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan, terutama dari sang ayah (Abah Sunarya). “Setiap kali jika saya selesai pagelaran, Abah selalu mengatakan “goréng” (jelek) terhadap apa yang saya lakukan. Abah itu orang tua yang pelit sekali untuk tertawa, anehnya hanya ketika saya mendalang dengan lawakan, dan Abah menyaksikan, ia tertawa. Bagi saya sepedas apapun kritikannya, saya jadikan pupuk dan cambuk sehingga memacu kreativitas dan inovasi. Saya menjadi sekarang ini berkat adanya hari kemarin, ujar Asep.

Biografi Profil Biodata Asep Sunandar Sunarya jadi Logo Google DoodleLebih jauh Asep mengatakan: “Kuring kudu ngahaturkeun nuhun ka sing saha waé anu geus ngritik, rék didasaran ku ngéwa atawa nya’ah, pék téh teuing. Sajaba ti éta, meureun perlu ogé kuring nendeskeun yén naon rupa kréativitas jeung inovasi anu ku kuring dilakukeun, dina raraga tarékah sangkan seni Sunda wayang golék anu mibanda ajén adi luhung, tetep bisa hirup disagala zaman, kaasup dijaman kiwari anu gening batan sakitu loba nilai seni katut budaya deungeun anu asup ka Indonésia pon kitu deui karasa ku urang Sunda. Atuh meureun mun wayang golék teu dimumulé kujalan inovasi mah tangtu baris kadéséh kubudaya deungeun téh. Nudipigusti ku Kuring mah ngan Gusti, lain pakem, lain wayang golék, lain tali paranti. Sapamanggih Kuring pakem wayang golek lain perkara anu statis komo kudu disakralkeun mah, lain! Ngan disisi séjén, kuring ogé kudu méré atawa nyadiakeun lolongkrang pikeun saha waé anu miboga pamadegan anu teu sajalan jeung pamanggih kuring, mangga téh teuing. Teu aya guna jeung manfaatna mutuskeun silaturahmi alatan pakem jeung hal séjén anu sifatna multitafsir. Naon anu dilakukeun ku Kuring, ngaropéa wayang golék ku jalan inovasi, lantaran Kuring yakin yén euyeub pisan niléi-niléi kamanusaan katut Katuhanan dina seni Sunda wayang golék. Kumangrupa anu mere aprésiasi kana naon anu ku Kuring dilakukeun, éta mah hak balaréa séwang-sewangan,da kuring mah darma diajar, atuh ngadalang gé darma diajar,” ungkapnya.