Biodata Ray Sahetapy Film Captain America

Ray Sahetapy Main Film Captain America Civil WarFerene Raymond Sahetapy atau yang dikenal dengan nama Ray Sahetapy (lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, 1 Januari 1957; umur 58 tahun) adalah aktor (pemeran) berkebangsaan Indonesia. Setelah industri perfilman Indonesia mati suri, Ray pun memasuki ranah hiburan di televisi dengan bermain sinetron maupun sitkom. Selain itu, dia juga menggeluti dunia teater. Ray merupakan salah satu pengurus PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia). Aktris/penyanyi Dewi Yull adalah istri pertamanya. Selain bermain di berbagai genre film, Ray juga menularkan gagasannya tentang kebangsaan melalui diskusi dan seminar kebudayaan.

Saat kecil, ia tinggal di Panti Asuhan Yatim Warga Indonesia, Surabaya. Ray menikah dengan Dewi Yull tanggal 16 Juni 1981, tanpa restu orang tua Dewi Yull, HRM Soendaryo dan Masayu Devi Hetimawati karena perbedaan agama. Meski begitu, pernikahan ini mampu bertahan 23 tahun dan mempunyai empat orang anak, Gizca Puteri Agustina Sahetapy, Rama Putra, Panji Surya, dan Mohammad Raya Sahetapy. Sayangnya Dewi memilih untuk menolak poligami sehingga memutuskan untuk menggugat cerai Ray. Dewi menggugat cerai Ray karena Ray hendak menikah lagi dengan Sri Respatini Kusumastuti (Iin), seorang janda beranak dua, pengusaha kafe dan katering, yang pernah menjadi dosen seni pertunjukan di Institut Kesenian Jakarta. Mereka resmi bercerai 24 Agustus 2004. Ray kemudian menikah dengan Iin pertengahan Oktober 2004.

Ray Sahetapy turut serta di acara galang relawan untuk Ganyang Malaysia. Ray mengaku ber'dendam' sejak beberapa tahun lalu. Ray mengata "Saya antusias banget untuk mendaftar Ganyang Malaysia, karena sudah lama Malaysia telah menghina dan melecehkan bangsa ini." Selain masih aktif dalam perfilman Nasional, saat ini Bung Ray Sahetapy juga memimpin organisasi Perhimpunan Seniman Nusantara, serta terlibat dalam pembuatan Talk Show penuh Canda Warung Cantik yang tayang di TVRI tiap Sabtu Malam.

Sejak remaja, pria berdarah Maluku ini bercita-cita menjadi aktor, Demi mengejar impiannya, Ray meneruskan kuliah Institut Kesenian Jakarta pada 1977, seangkatan dengan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok. Ia lulus tahun 1988. Film perdananya berjudul Majalah Gadis arahan sutradara Nya' Abbas Akup. Dalam film inilah Ray bertemu dengan Dewi Yull, istri pertamanya. Setelah itu Ray bermain di film Kabut Ungu di Bibir Pantai, Dukun Ilmu Hitam (1981), Sejuta Serat Sutra (1982), Darah dan Mahkota (1983), Tirai Kasih, Secangkir Kopi Pahit, Pelangi di Balik Awan, Kerikil-Kerikil Tajam, Kabut Perkawinan (1984).

Lewat film Noesa Penida (1988) garapan Galeb Husen dan ditulis Asrul Sani ini, Ray dinominasikan sebagai aktor terbaik pada FFI 1989. Selain melalui Noesa Penida, Ray pernah dinominasikan sebanyak tujuh kali di ajang yang sama, yakni melalui film Ponirah Terpidana (FFI 1984), Secangkir Kopi Pahit (FFI1985), Kerikil-Kerikil Tajam (FFI 1985), Opera Jakarta (FFI 1986), Tatkala Mimpi Berakhir (FFI 1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (FFI 1990).

Ketika industri film Indonesia mengalami mati suri, tidak membuat Ray ikut hilang. Dia tetap eksis di dunia seni peran. Ray membangun sebuah sanggar teater di pinggiran kota, dan membentuk komunitas teater di sana. Lewat sanggarnya ini Ray pernah membuat geger lantaran gagasan tentang perlunya mengubah nama Republik Indonesia menjadi Republik Nusantara. Pada pertengahan 2006, Ray kembali aktif di dunia film dengan membintangi Dunia Mereka garapan sutradara Lasja Fauzia dan menyandingkan dirinya dengan aktris Ira Wibowo. Bahkan kongres PARFI pada tahun yang sama memilih Ray Sahetapy menjadi salah satu ketuanya.